Kamis, 7 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Ekspedisi Bagan benio 2011

Warga Bagan Benio Masih Pegang Teguh Adat melayu

Potret Daerah Terisolir di Tengah APBD Bengkalis 3,5 Triliun

Tayang:
Penulis: Nolpitos Hendri | Editor:
Laporan Nolpitos

PEKANBARU, TRIBUNPEKANBARU.COM - Ekspedisi Bagan Benio 2011 merupakan ekspedisi lingkungan akhir tahun yang dilakukan oleh Pokja Himpunan Pewarta Peduli Lingkungan (HPPL).


Tim yang pimpin oleh Agung Marsudi D Susanto jurnalis dari Duri Times ini, beranggotakan Sahdan Lubis dari media online, Riawan Saputra dari media cetak, Riko dari Jejak, Sahril dari penggiat sosial dan Sarifudin.


Menurut Agung kepada Tribun, kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari (tanggal 25-26 Desember 2011) ini bertujuan untuk merekam perubahan alam, dan keunikan tasik yang eksotik serta kondisi sosiokultural, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur masyarakat Bagan Benio.


"Seluruh rangkaian kegiatan dan temuan-temuan dalam waktu dekat akan didokumentasikan, sebagai bahan masukan bagi para pemangku kepentingan, penggiat lingkungan internasional dan pemerintah, berupa executive summary, foto dan film dokumenter," ungkap Agung.


Bagan Benio, ulas Agung, merupakan nama sebuah dusun di Desa Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Berada dalam zona penyangga Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil.


"Bagan Benio sendiri terdiri dari tiga kampung yaitu Bagan Benio, Pulai Bungkuk, dan Bagan Belado. Dikelilingi oleh Tasik seluas lebih dari 30 kilometer persegi, dihuni 87 kepala keluarga atau 260 jiwa.


Terdiri dari suku asli (native) Melayu, yaitu suku Gonggang dan suku Pandan. Mata pencaharian penduduknya adalah berladang karet dan mencari ikan," jelas Agung.


Kondisi Dusun Bagan Benio sendiri, kata Agung, memang sangat memprihatinkan. Tidak hanya karena terisolir, tapi juga dinamika pembangunan Kabupaten Bengkalis dengan APBD Rp 3,5 triliun sama sekali tidak menyentuh masyarakat Bagan Benio.


"Di dusun yang masih memegang teguh adat Melayu Siak ini tak ada fasilitas kesehatan, sehingga kalau ada warga yang sakit, atau mau melahirkan mereka masih mengandalkan dukun kampung. Rata-rata penduduknya hanya lulusan SD. Satu-satunya SD yang ada di sini hanya memiliki jumlah murid 47 siswa. Sekolahnya masuk sore, karena anak-anaknya pagi harus ikut deres karet atau "motong" karet. Mereka tidak mengenal PLN, tidak mengenal mobil, tidak mengenal jalan aspal atau semen. Mereka hanya mengenal jalan hutan dan jalan setapak," beber Agung


Menurut Ketua RT 01 Dusun Bagan Benio, Zul (36) yang merupakan keturunan kelima dari suku native ini menuturkan, pernah kampung ini didatangi oleh aparat kehutanan yang katanya Bagan Benio masuk kawasan lindung. Masyarakat dilarang untuk melakukan aktivitas apapun yang merusak lingkungan.


"Masyarakat kami pun tidak melakukan apa-apa, layaknya margasatwa yang dilindungi. Meski kami tidak lagi melihat hutannya, sebab yang tinggal hanya "lindungnya". Kami seperti diperlakukan layaknya hewan yang dilindungi," ujar Zul.


Semenjak Bagan Benio berpenghuni dari tahun 1947 hingga sekarang, ulas Zul, tidak satupun Bupati yang pernah datang ke Bagan Benio.


"Kami merasa seperti suku Melayu yang sengaja dilupakan. Masyarakat Bagan Benio tidak pernah meminta apapun pada pemerintah, kami hanya minta dibuatkan jalan, sehingga kami bisa bekerja dan sekolah seperti masyarakat lainnya di Kabupaten Bengkalis," tutur Zul.


Dari pemaparan Zul ini, tambah Agung, seharusnya pemerintah tidak saja melindungi hutan dan hewannya, tapi juga manusianya. (nol)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved