Ekspedisi Bagan benio 2011
Warga Bagan Benio Masih Pegang Teguh Adat melayu
Potret Daerah Terisolir di Tengah APBD Bengkalis 3,5 Triliun
Penulis: Nolpitos Hendri | Editor:
PEKANBARU, TRIBUNPEKANBARU.COM - Ekspedisi Bagan Benio 2011 merupakan ekspedisi lingkungan akhir tahun yang dilakukan oleh Pokja Himpunan Pewarta Peduli Lingkungan (HPPL).
Tim yang pimpin oleh Agung Marsudi D Susanto jurnalis dari Duri
Times ini, beranggotakan Sahdan Lubis dari media online, Riawan Saputra
dari media cetak, Riko dari Jejak, Sahril dari penggiat sosial dan
Sarifudin.
Menurut Agung kepada Tribun, kegiatan ini dilaksanakan
selama dua hari (tanggal 25-26 Desember 2011) ini bertujuan untuk
merekam perubahan alam, dan keunikan tasik yang eksotik serta kondisi
sosiokultural, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur masyarakat Bagan
Benio.
"Seluruh rangkaian kegiatan dan temuan-temuan dalam waktu
dekat akan didokumentasikan, sebagai bahan masukan bagi para pemangku
kepentingan, penggiat lingkungan internasional dan pemerintah, berupa
executive summary, foto dan film dokumenter," ungkap Agung.
Bagan
Benio, ulas Agung, merupakan nama sebuah dusun di Desa Tasik Serai,
Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Berada dalam zona penyangga
Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil.
"Bagan Benio sendiri terdiri dari
tiga kampung yaitu Bagan Benio, Pulai Bungkuk, dan Bagan Belado.
Dikelilingi oleh Tasik seluas lebih dari 30 kilometer persegi, dihuni 87
kepala keluarga atau 260 jiwa.
Terdiri dari suku asli (native) Melayu,
yaitu suku Gonggang dan suku Pandan. Mata pencaharian penduduknya
adalah berladang karet dan mencari ikan," jelas Agung.
Kondisi Dusun
Bagan Benio sendiri, kata Agung, memang sangat memprihatinkan. Tidak
hanya karena terisolir, tapi juga dinamika pembangunan Kabupaten
Bengkalis dengan APBD Rp 3,5 triliun sama sekali tidak menyentuh
masyarakat Bagan Benio.
"Di dusun yang masih memegang teguh adat
Melayu Siak ini tak ada fasilitas kesehatan, sehingga kalau ada warga
yang sakit, atau mau melahirkan mereka masih mengandalkan dukun kampung.
Rata-rata penduduknya hanya lulusan SD. Satu-satunya SD yang ada di
sini hanya memiliki jumlah murid 47 siswa. Sekolahnya masuk sore, karena
anak-anaknya pagi harus ikut deres karet atau "motong" karet. Mereka
tidak mengenal PLN, tidak mengenal mobil, tidak mengenal jalan aspal
atau semen. Mereka hanya mengenal jalan hutan dan jalan setapak," beber
Agung
Menurut Ketua RT 01 Dusun Bagan Benio, Zul (36) yang merupakan
keturunan kelima dari suku native ini menuturkan, pernah kampung ini
didatangi oleh aparat kehutanan yang katanya Bagan Benio masuk kawasan
lindung. Masyarakat dilarang untuk melakukan aktivitas apapun yang
merusak lingkungan.
"Masyarakat kami pun tidak melakukan apa-apa,
layaknya margasatwa yang dilindungi. Meski kami tidak lagi melihat
hutannya, sebab yang tinggal hanya "lindungnya". Kami seperti
diperlakukan layaknya hewan yang dilindungi," ujar Zul.
Semenjak
Bagan Benio berpenghuni dari tahun 1947 hingga sekarang, ulas Zul, tidak
satupun Bupati yang pernah datang ke Bagan Benio.
"Kami merasa
seperti suku Melayu yang sengaja dilupakan. Masyarakat Bagan Benio tidak
pernah meminta apapun pada pemerintah, kami hanya minta dibuatkan
jalan, sehingga kami bisa bekerja dan sekolah seperti masyarakat lainnya
di Kabupaten Bengkalis," tutur Zul.
Dari pemaparan Zul ini, tambah
Agung, seharusnya pemerintah tidak saja melindungi hutan dan hewannya,
tapi juga manusianya. (nol)