Tribun Watch
Kondisi kerusakan hutan Riau sudah semakin Parah
Baru-baru ini, Jaringan Kerja penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) merilis data mengenai kerusakan hutan alam pada 2011
Editor:
Laporan:Galih
Pekanbaru, Tribunpekanbaru.com-Kondisi kerusakan hutan di Riau sudah semakin memprihatinkan. Baru-baru ini, Jaringan Kerja penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) merilis data mengenai kerusakan hutan alam pada 2011. Menurut data ini, tercatat sebanyak 86.345 hektar hutan alam di Riau hilang.
Kerusakan ini semakin parah, karena 82.084 hektar atau 95 di
antaranya merupakan hutan alam gambut yang seharusnya dilindungi. Sementara 4.261 hektar atau 5 persen lainnya
adalah hutan non gambut. Jikalahari mengkhawatirkan, deforestasi dan degradasi
pembukaan hutan dan lahan gambut merupakan penyumbang emisi terbesar.
Untungnya,
pembukaan hutan alam dan lahan gambut ini “sedikit” bisa dikurangi dengan
adanya aksi warga Pulau Padang yang menolak keberadaan PT Riau Andalan Pulp And
Paper (RAPP). Menurut Jikalahari, apabila tidak ada perlawan serius dari
masyarakat Pulau Padang, maka pada 2011 ini, akan ada lahan seluas 30.087
hektar hutan alam yang akan diluluhlantakkan oleh perusahaan tersebut.
Dalam
analisinya, Jikalahari berpendapat, pembukaan hutan alam di Riau sebagian besar
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan industry
bubur kertas. Sedangkan yang dilakukan oleh warga masyarakat, jumlahnya
terbilang amat kecil.
Koordinator
Jikalahari, Muslim Rasyid mengatakan, pada 2009 lalu, hutan alam di Riau
tersisa sebanyak 2.571.260 hektar. Dari total tersebut, 1.594.325 hektar
atau 62% di antaranya merupakan hutan gambut. Celakanya 655.000 hektar hutan
gambut yang masih tersisa tersebut, tidak masuk dalam Peta Indikatif
Moratorium.(*)