Cerita Rakyat Pulau Tugu Binuang
Hari kedua perjalanan Tribun Network ke Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat
Penulis: Nolpitos Hendri | Editor:
Ada cerita rakyat tentang Pulau Pagai ini. Dahulu kala, di pantai timur bagian tengah pulau ini hidup sebatang pohon Binuang. Batang pohon ini berdiameter lebih kurang 800 meter, dan tinggi yanglebih dari satu kilometer.
Ketinggian dan kebesaran pohon ini dikenal orang Indopuro, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pasalnya, ketika matahari sudah condong ke barat, bayangan pohon ini sampai ke Indopura. Maka saat itu, ketika orang Indopuro menjemur pakaian atau padi, ketika matahari sudah condong ke barat mereka sudah tidak bisa menjemur lagi, sehingga jemuran mereka tidak kering dalam satu hari.
Kebesaran dan ketinggian pohon Binuang ini, juga menjadi tempat hinggapnya dua ekor burung Garuda. Atas kondisi ini, pohon ini dikenal angker oleh masyarakat Pagai terdahulu. Malahan, saking angkernya tidak ada yang berani mendekat pohon ini, karena ketika ada yang mendekat mereka tidak kembali. Keberadaan mereka tidak diketahui hidup atau mati.
Suatu ketika, karena pohon ini sudah dimakan umur, pohon ini tumbang ke arah barat, sehingga memutus Pulau Pagai menjadi dua, karena bekas jatuhan pohon itu dialiri air dan berbentuk sungai.
Kini, tunggul pohon itu berbentuk pulau, dan diberi nama Pulau Tugu Binuang. Pulau itu kini dikuasi oleh seorang anggota DPRD Kepulauan Mentawai. Disana ada rumah yang memiliki suar. Suar itu terlihat dari laut dan juga terlihat dari kedua sisi pulau. (Nolpitos Hendri)