Pakar Ekonomi Islam Dumai Nilai Pemusnahan Bawang Mubazir I
Menurutnya, kasus bawang tidak sama dengan kasus tangkapan Narkoba, VCD porno atau minuman keras
Penulis: Mayonal Putra | Editor:
Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, DUMAI - Pakar ekonomi Islam, sekaligus dosen STAI Tafaqquhfiddin Kota Dumai, HM. Rizal Akbar, M.Phil membuka ruang diskusi tentang kasus penangkapan dan pemusnahan bawang.
Menurutnya, kasus bawang tidak sama dengan kasus tangkapan Narkoba, VCD porno atau minuman keras. Oleh karenanya, ia menilai tindakan pemusnahan terhadap bawang sesuatu yang sangat mubazir. Apalagi, sejak keran impor bawang ditutup paksa oleh pemerintah pusat di Dumai, harga pun melambung hingga tiga kali lipat.
"Di daerah kita, bawang sesuatu yang langka. Jadinya harga melonjak. Ini gaya ekonomi klasik, sehingga harga menyesuaikan dengan hukum pasar yang berkembang," ujarnya.
Dijelaskannya, seharusnya Balai Karantina Pertanian Klas I Pekanbaru harus mengkaji bawang tersebut terlebih dahulu. Kalau terdapat organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) baru harus dimusnahkan.
"Tangkapan bawang mirip dengan kayu. Kalau kayu, itu tidak dimusnahkan, bisa dilelang. Jadinya masih bermanfaat. Bawang, selagi tidak didapai mengandung OPTK, sebaiknya dilelang, bisa meringkan harga dipasaran," ujarnya.(*)