Tradisi Ngutan Warga SAD Jelang Lebaran Diambang Punah
Ngutan atau pergi ke hutan atau pergi masuk ke dalam hutan untuk suatu tujuan. Awalnya kegiatan ini hanyalah kegiatan biasa untuk memenuhi kebutuhan
TRIBUNPEKANBARU.COM - Kabupaten Batanghari merupakan satu kabupaten tertua di Provinsi Jambi yang memiki banyak suku bangsa dan tradisi di dalamnya. Satu diantaranya adalah budaya dan tradisi tahunan yang hanya dilakukan oleh warga Suku Anak Dalam (SAD) di Batanghari. Tradisi dan budaya itu hanya ada ketika menyambut lebaran dan perayaan lebaran semata.
Biasanya warga Suku Anak Dalam (SAD) akan menyajikan aneka makanan terutama buah- buahan dari hutan serta daging binatang buruan saat lebaran tiba. Namun kini, hal tersebut sudah sangat jarang ditemui. Tradisi ini mulai terimbas seiring berkurangnya luasan hutan. Aneka buah dan daging buruan tersebut diperoleh melalui sebuah kegiatan turun temurun yang dinamakan Ngutan. Kegiatan yang dilakukan jelang lebaran bagi warga SAD di Batanghari nyaris punah terkikis oleh hilangnya hutan dilingkungan tinggal mereka.
Ngutan atau pergi ke hutan atau pergi masuk ke dalam hutan untuk suatu tujuan. Awalnya kegiatan ini hanyalah kegiatan biasa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi kegiatan itu bergeser menjadi tradisi yang selalu dilakukan ketika hendak menyambut lebaran. Dan lama kelamaan tradisi tersebut pun menjadi budaya dan dilakukan oleh seluruh warga SAD untuk menyambut lebaran dan merayakan lebaran.
Abunjani, ketua kelompok SAD Batin IX kepada Tribun menjelaskan bahwa tradisi Ngutan milik warga SAD kini mendekati ambang kepunahan. Hal itu terjadi bukan karena sudah ditinggalkan masyarakatnya, melainkan karena tidak adanya hutan yang menjadi media untuk dilakukannya tradisi tersebut. "Ngutan merupakan kebiasaan warga SAD jelang lebaran. Dimana kami akan masuk ke hutan untuk memasang jerat hewan dan mencadi buah-buahan khas hutan yang jarang ada dan ditemui untuk dimakan setiap lebaran," ujar Abunjani.
Keberangkatan untuk masuk kehutan itu sendiri mulai dilakukan 10 hari menjelang lebaran. Setelah itu kembali lagi ke perkampungan dengan membawa durian, buah tampu, buah rijan. Sambil menunggu jerat yang dipasang mendapatkan korbannya, masing-masing keluarga mengolah durian menjadi panganan Juadah (dodol).
"Hasil Ngutan itu akan disantap saat lebaran. Dimana, yang khusus dicari adalah Kijang, Kancil, atau Napu. Bila ada orang-orang tua datang ke rumah kita, yang pertama ditanyakan adalah daging kijang atau napu untuk dimakan," ujar Abunjani.
Adapun durian yang digunakan untuk pembuatan Juadah itu bukanlah semua durian. Tetapi, buah durian khusus yang dipilih yakni durian daun. Dimana durian daun ini memiliki ciri panjang dan bentuknya menyerupai daun. Buahnya tidak bulat dan tidak pula lebar serta tampuknya terlihat lebih panjang.
Kini Ngutan tidak lagi dilakukan, karena tempat mereka tinggal saat ini sudah menjadi kebun sawit dengan luas mencapai ribuan hektar. Kondisi ini membuat hewan liar yang ingin mereka cari dan jerat sudah tidak ada lagi, seperti kijang, kancil dan napu. Demikian pula jenis-jenis buah-buahan hutan juga sudah hilang. Semuanya berganti dengan pohon sawit dan buah sawit.
Kemudian pada perayaan hari pertama lebaran, umumnya khusus untuk keluarga. Selanjutnya ditambah dengan silaturahmi antara tetangga. Hidangan yang disajikan itu adalah Juadah dan buah-buahan yang berhasil didapatkan di hutan. Baru pada lebaran hari kedua, ada tradisi yang lebih besar yakni "Kumpulan". Dimana warga SAD akan berkumpul di rumah ketua kelompok masing-masing dan diadakan pesta atau perayaan sebagai hiburan. Akan tetapi tradisi kumpulan itu sendiri, diakuinya kini sudah tidak ada lagi.
"Dari sekian tradisi itu yang sudah dilupakan nian oleh warga SAD adalah tradisi kumpulan. Dimana setiap warga SAD datang kerumah ketua kelompok atau yang dituakan dan bersilahturahmi ke rumah yang tua-tua," ungkapnya.
Dulu, pada tradisi kumpulan itu dilakukan kegiatan tanding ilmu pencak silat tradisional warga SAD. selain itu juga dilakukan pertandingan lain yang merupakan uji keterampilan warga dan anak-anak SAD. Akan tetapi, tradisi ini sudah tidak pernah lagi dilakukan dan benar-benar sudah hilang. "Tradisi kumpulan itu sekarang benar-benar sudah hilang. Padahal mengunjungi ketua atau ke rumah orang-orang tua itu merupakan budaya SAD dengan dimeriahkan pertandingan itu," katanya.
Untuk terdegradasinya tradisi kumpulan ini, karena warga SAD kini lebih senang bepergian dengan kendaraan mereka atau menghabiskan waktu dirumah dengan menonton tv. Sehingga kegiatan atau tradisi itu sendiri lambat laun benar-benar diambang kepunahan. Abunjani sendiri mengaku prihatin dengan semakin tergesernya kehidupan mereka. Dimana, hilangnya hutan yang menjadi tempat mereka hidup.
Selain itu, dengan hilangnya hutan, maka tradisi dan kebudayaan leluhur merekapun ikut tergerus dan hilang. Dampak dari masuknya peradaban luar yang lebih modern juga perlahan namun pasti mulai menggerus kebiasaan mereka juga. Maka dari itu, mereka berharap, pemerintah benar-benar memperhatikan ketersediaan hutan bagi kehidupan mereka dan tradisi warga SAD. (Tribun Jambi)