Breaking News:

Kasus Mutilasi

Delvi dan Supiyan Sempat Menjual Daging Korban di Perawang

Sama seperti Marjemen, ia dieksekusi di hutan akasia. Dagingnya dijual dengan mengelabui pemilik rumah makan dan kedai tuak di Perawang

Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru
Tiga tersangka pembunuhan disertai mutilasi diserahkan ke Kejari Siak, Rabu (15/10/2014) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Delvi memulai aksi kejinya dengan membunuh bocah berusia 5 tahun, Febrian Dela, di Kampung Baru, Kelurahan Rangau, Kecamatan Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir.

Febrian dilaporkan hilang oleh orangtuanya pada tanggal 10 Januari 2013. Korban pertamanya itu merupakan pembeli sate yang dijajakan oleh Delvi. Dari pengakuannya ke polisi, Delvi mengatakan ia sendirian membunuh dan memutilasi Febrian.

Selanjutnya, pembunuhan kedua dan ketiga ia lakukan bersama istrinya, Dita Desmala Sari. Pasangan ini kemudian bercerai. Setelah itu, Delvi kembali beraksi sendirian membunuh korban keempat dan kelima. Sementara untuk korban keenam dan ketujuh, ia melakukannya bersama temannya, Supiyan.

Saat mengajak Supiyan beraksi, akhir Juni 2014, Delvi mengiming-imingi bekas pekerja rumah potong itu dengan imbalan Rp 500 ribu. Supiyan sempat menayakan kenapa harus kemaluan anak-anak. Delvi menjawab,”Itu yang dicari oleh Bapak.”

Keduanya mencari korban di salah satu lokasi bekas penggalian tanah di Desa Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, Siak. Sore itu ada tiga orang anak yang sedang mandi di sana.

Dari tiga anak itu, Delvi menunjuk Marjevan Gea, 8 tahun, sebagai korbannya. Delvi dan Supiyan membujuk Marjevan dengan mengajaknya jajan ke kedai. Di sana, selain membeli makanan ringan, Delvi juga membeli pisau kater. Korban kemudian digirim ke hutan akasia. Di sanalah bocah malang itu dibunuh dan dimutilasi.

Pada pertengahan Juli 2014, Delvi kembali mengajak Supiyan mencari korban. Kali ini mereka punya “ide gila” untuk menguliti dan menjual daging korbannya. Mereka pun menemukan korbannya di lokasi pemancingan tepi sungai, masih di Desa Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, Siak.

Dari tiga anak yang sedang memancing di situ, nasib malang menimpa Femasili Madeva, 10 tahun. Sama seperti Marjemen, ia dieksekusi di hutan akasia. Dagingnya dijual dengan mengelabui pemilik rumah makan dan kedai tuak di Perawang bahwa itu daging sapi.

Namun pembunuhan Femasili meninggalkan jejak, karena ada yang melihat mereka membawa bocah itu ke hutan akasia. Berkat keterangan warga, polisi membekuk Delvi di rumah saudaranya di Kota Duri, Bengkalis, 22 Juli 2014. Selanjutnya polisi meringkus Supiyan, DP, dan Dita. Sidang perdana Delvi Cs akan dilanjutkan Senin (10/10/2014) depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi.

Divonis Mati

Majelis hakim akhirnya menetapkan vonis mati kepada tiga pelaku pembunuhan disertai mutilasi pada sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Siak, Kamis (12/2). Dua terpidana mati, M Delfi dan mantan istrinya, Dita Desmala Sari, tampak lebih santai dibanding rekannya Supyan.

Vonis mati untuk Delfi dan Supyan sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum. Sedangkan vonis Dita justru lebih berat, karena sebelumnya ia dituntut dengan hukuman penjara seumur hidup

Ketiga terdakwa mendengarkan pembacaan amar putusan oleh majelis hakim secara bergantian. Delfi (20) yang dianggap sebagai otak pelaku pembunuhan berantai terhadap tujuh korbannya yang semuanya laki-laki, enam di antaranya masih anak-anak, lebih dahulu divonis mati. Baru menyusul Supyan dan terakhir Dita Desmala Sari, mantan istri Delfi.

Majelis hakim yang diketuai Sorta Ria Neva SH dan dua hakim anggota, Desbertua Naibaho SH dan Robi Wibowo SH, membacakan tujuh berkas untuk Delfi. Saat menguraikan fakta-fakta persidangan sebelumnya, hakim Sorta sempat membuat seisi ruangan terharu.

Sorta menangis ketika sampai pada kronologi kekejian Delfi Cs dalam menghabisi nyawa tujuh korbannya. Perbuatan keji Delfi Cs dibacakan secara runut mulai dari proses penculikan, pembunuhan hingga mutilasi dan diambil alat kelaminnya, sehingga membuat bulu roma merinding.

Setelah menyeka air matanya, hakim Sorta tampak geram membacakan amar putusan. Ruangan sidang terbuka yang dipenuhi wartawan, keluarga korban dan pihak kepolisian itu ikut berdiri. "Semua unsur terkait hukum dan keyakinan sudah terpenuhi. Dari fakta-fakta persidangan, tidak satupun yang dapat meringankan (terdakwa)," kata hakim Sorta sesaat sebelum mengetuk palu terhadap putusan itu.

Delfi tak tampak canggung kala detik-detik penentuan nasibnya itu. Dengan semangat, hakim Sorta membacakan amar putusan yang didengarkan hadirin secara seksama. Palu kemudian diketuk sembari hakim menyebut terdakwa atas nama Muhammad Delfi dihukum mati.

Hadirin kembali duduk, sedangkan Delfi masih biasa-biasa saja. Terdakwa yang dianggap otak pembunuhan keji itu terbukti telah melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

"Itulah putusan buat kamu, bagaimana sikap kamu tentang putusan itu?" tanya hakim Sorta.

Delfi berbicara dengan penasehat hukumnya, Wan Arwin Timimi, beberapa saat. Kemudian, baru duduk di kursi pesakitan itu kembali. "Banding," sebut Delfi dengan nada rendah.

Selain vonis mati, barang bukti berupa satu unit sepeda motor diputuskan untuk disita. Karena bernilai ekonomis, barang bukti itu menjadi dirampas untuk negara.

Sedangkan barang bukti berupa pakaian korban dikembalikan kepada keluarga korban. Sementara peralatan yang dijadikan untuk membunuh korban disita untuk dimusnahkan.

Setelah ketua majelis hakim menjelaskan hal tersebut, petugas kepolisian menggiring Delfi ke tahanan PN Siak. Kemudian, giliran terdakwa Supyan (26) digiring masuk untuk mengikuti sidang.

Ketakutan
Delfi Cs melakukan perbuatan keji itu dengan sangat sadis. Delfi sebagai pelaku utama sengaja mencari bocah-bocah untuk dibunuh dan dimutilasi, guna diambil alat kelaminnya. Itu dilakukannya mengikuti petunjuk ayahnya, seorang dukun, sebagai syarat menjadi dukun hebat.

Dalam melakukan aksinya itu, Delvi dibantu istrinya, Dita. Setelah mereka bercerai, ia dibantu oleh temannya, Syupian. Pembunuhan berantai yang diotaki M Delfi berlangsung dari awal Juli 2013 dari baru terungkap pada Juli 2014. Jejak kejahatan Delfi Cs terentang di tiga kabupaten, yakni Siak, Bengkalis, dan Rokan Hilir.

Semua korban berjenis kelamin laki-laki. Enam di antaranya masih bocah, yakni Febrian Dela (5), M. Hamdi Al-Iqsan (9), Rendi Hidayat (10), M. Akbar (9), Marjevan Gea (8), dan Fesmilin Madeva (10). Satu korban lainnya pria dewasa, yakni Acik, 40 tahun.

Tiga korban yakni Rendi, Marjevan, dan Fesmilin merupakan bocah-bocah asal Perawang, Siak. Tiga lainnya, Hamdi, Akbar, dan Acik merupakan warga Mandau, Bengkalis. Sedangkan Febrian Dela, korban paling muda yang masih berusia lima tahun, merupakan warga Rantau Kopar, Rokan Hilir.

Seorang korban, Marjevan Gea, bahkan dikuliti dan dagingnya dijual ke rumah makan dan kedai tuak di Perawang, Siak. Ketika itu Delfi beraksi bersama temannya, Syupian, yang pernah bekerja di rumah potong hewan.

Berbeda dengan Delfi, Supyan sejak awal tiba di gedung Pengadilan Negeri Siak, Kamis pagi, sudah tampak ketakutan. Dengan penuh harap, ia memohon kepada majelis agar tidak dijatuhi hukuman mati. Permohonan itu keluar dari mulutnya sebelum dirinya mengikuti sidang.

"Saya takut, takut dihukum mati. Saya menyesal. Saya mohon seumur hidup saja," ujarnya kepada wartawan, sebelum masuk ke ruang sidang menduduki kursi pesakitan.

Untuk terdakwa Supyan, hakim membacakan dua berkas. Semua fakta dan keterangan saksi diuraikan majelis di hadapannya. Ia tampak tertunduk tanpa bergeming sedikitpun.

Dari fakta-fakta persidangan yang diuraikan majelis hakim, tak satupun juga yang dapat meringankannya. Supyan bahkan dengan sangat keji menguliti salah satu korban, Marjevan Gea yang berusia delapan tahun. Tidak butuh waktu lama menuntaskan pembacaan dua berkas, tibalah saatnya Supyan disuruh berdiri. Kala itu, Supyan tampak gugup, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

"Dijatuhkan hukuman mati," kata hakim keras sembari mengetukkan palu. Supyan hanya terdiam sampai ia ditanya majelis hakim atas putusan itu.

"Apa sikap kamu dengan putusan ini. Kamu berhak mendapatkan pembelaan hukum atau banding," kata hakim Sorta.

Supyan memanfaatkan kesempatan itu berdiskusi dengan penasehat hukumnya. Supyan juga menyatakan akan banding atas putusan itu. Saat Supyan digiring keluar, ia hanya pasrah. Tubuhnya yang semakin kurus tampak gontai. Tak satupun pertanyaan wartawan dihiraukannya hingga kembali mendekam di tahanan PN Siak sambil menunggu terdakwa ketiga, yakni Dita Desmala Sari.

Sempat berharap
Dita, yang ikut andil menghilangkan nyawa tiga dari tujuh korban sempat berharap majelis hakim tidak menjatuhkan hukuman mati. Sebab, jaksa penuntut umum sebelumnya menuntut Dita dengan penjara seumur hidup. Alasan jaksa, Dita ikut melakukan pembunuhan di bawah tekanan Delfi, yang kala itu terikat hubungan suami-istri.

Dita yang rauh wajah datar itu menjadi perhatian banyak hadirin. Ia tampak bertambah gemuk selama menjalani proses hukumnya. Sebelum duduk di kursi pesakitan, ia masih sempat melempar senyum. Ia tetap santai walaupun hakim membacakan dua berkas dari fakta-fakta persidangan sebelumnya.

Dari uraian hakim, Dita lah yang berperan membuka celana korbannya, sebelum Delfi mencekiknya. Dita pula yang memainkan kelamin korbannya sebelum dipotong dengan pisau kater.

Perbuatan yang membuat roma hadirin merinding itu, dibacakan secara seksama oleh majlis. Dita tampak biasa saja saat banyak hadirin keluar ruangan sidang, karena tak sanggup mendengarkan kronologi perbuatannya pada korban-korbannya.

Saat itu, orangtua salah satu korban mutilasi, Misna Anggraini, warga Desa Pinang Sebatang, Tualang, Siak, tak henti mengucurkan air matanya di bagian belakang ruang sidang. Sehingga sempat menjadi perhatian awak media.

Namun, tuntutan jaksa terhadap Dita tidak disepakati majelis hakim. Sebab, Dita mempunyai andil besar pula dalam menghabisi nyawa korbannya. Sehingga tak ada keterangan saksi dan fakta persidangan sebelumnya yang dapat meringankan.

Dugaan itu akhirnya benar. Perempuan asal Sumbar itu divonis mati. Setelah berdiskusi dengan penasehat hukumnya, Dita juga mengajukan banding. "Apakah sikap kamu dengan putusan itu?" tanya hakim Sorta.

"Banding," sebut Dita setengah berbisik. "Banding? Ya, banding, waktunya tujuh hari ya," ulas hakim Sorta.

Lancar
Sidang yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB itu berjalan dengan lancar. Ruang sidang disesaki pengunjung, termasuk keluarga para korban. Namun tidak tampak anggota keluarga ketiga terdakwa.

Polres Siak menurunkan 80 personil untuk mengawal sidang. Selama sidang putusan kasus mutilasi yang menggemparkan itu berlangsung, polisi terus berjaga-jaga.

"Setelah koordinasi dengan pengadilan sebelumnya, kami turunkan 80 personil hari ini. Ini hanya untuk mengawal proses sidang. Kami bertanggungjawab keamanan sidang sampai akhir," ujar Kasat Shabara Polres Siak AKP Adi Pranyoto.

Selain ketiga terdakwa, sebenarnya ada seorang pelajar, berinisial DP (17), ikut terseret kasus ini karena menyaksikan Syupian menguliti Marjevan Gea. Pelajar SMK itu divonis PN Siak pertama kali, awal September 2014, dengan hukuman 10 tahun penjara.

Itu hukuman maksimal bagi pelaku kejahatan di bawah umur. Namun itu dianulir Pengadilan Tinggi Riau, yang membebaskan DP. Tidak terima DP dibebaskan, jaksa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). (Tribun Pekanbaru Cetak)

Apa tuntutan para orangtua korban terhadap ulah Delvi Cs? Baca selengkapnya di Harian Tribun Pekanbaru edisi HARI INI. Simak lanjutannya di www.tribunpekanbaru.com.

FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru dan LIKE Pages Facebook: Tribun Pekanbaru dan Tribuners Pekanbaru Interaktif.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved