Potret Warga Karang Jambe Banyumas
Warga Daerah Ini Hanya Bisa Numpang Truk Angkut Hasil Bumi
Dengan menumpang truk yang menjadi satu-satunya alat trasportasi yang dapat menjangkau daerah tersebut
TRIBUNPEKANBARU.COM, BANYUMAS - Pagi itu cuaca di Karang Jambe terasa dingin dan berkabut, meski sang surya belum terlihat jelas karena terhalang pepohonan, tapi cahanyanya sudah terpancar diantara dedaunan yang basah oleh air dari sisa hujan yang mengguyur semalam, Jumat (17/10/2014).
Suasana pagi yang sudah dinantikan tabloidpamor.com untuk melihat aktifitas masyarakat di Grumbul Karang Jambe yang hendak menjual berbagai barang dagangan ke pasar di kota kecamatan. Grumbul Karang Jambe terletak di Desa Watu Agung, Kecamatan Tambak, Banyumas.
Masyarakat Karang Jambe biasanya menjual berbagai macam barang dagangannya ke Pasar Tambak hanya sekali dalam seminggu yaitu setiap hari Jumat. Dengan menumpang truk yang menjadi satu-satunya alat trasportasi yang dapat menjangkau daerah tersebut, dengan ongkos dua puluh ribu rupiah per orang untuk pulang pergi.
Barang dagangan seperti gula kelapa dan berbagai hasil bumi seperti kayu bakar, talas (lumbu), kapulaga, hingga daun cengkeh (kleang) menjadi barang bawaan masyarakat setempat.
Moment yang tidak terlewatkan bagi masyarakat untuk menjual barang dagangan ke pasar dan belanja bahan kebutuhan pokok sehari-hari saat pulangnya. Jika melewakan moment yang satu ini maka bisa dibayangkan kesulitan yang akan dijumpai yang berarti menunggu Jumat berikutnya. Kalaupun berangkat sendiri tentu tidak sebanding dengan biaya transportasinya, karena tidak ada angkutan umum selain truk di hari itu.
Satu-satunya akses penghubung dari grumbul ke desa ditempuh melalui jalan dengan pengeras dari batu kali yang tidak beraturan. Stuktur jalan yang bergelombang serta licin jika sedang turun hujan menjadi sulit atau bahkan tidak dapat dilalui oleh kendaraan selain truk atau jenis kendaraan tinggi.
Selain truk, sepeda motor juga banyak digunakan sebagai alat transportasi. Namun, kembali lagi jika musim hujan pengendara pun tidak berani berboncengan atau membawa barang karena licin dan sangat beresiko.
Hal inilah yang sebenarnya juga menghambat ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat di Grumbul Karang Jambe yang dihuni 97 KK yang terbagi menjadi dua rukun tetangga (RT). Belum lagi grumbul-grumbul lain yang jaraknya lebih jauh ke dalam lagi.
Sebagai daerah penghasil gula merah, kapulaga, dan daun sirih yang menjadi komoditas utamanya, masyarakat Karang Jambe juga dikenal memiliki semangat kerja yang tinggi. Di sela waktunya sebagai penderes, menyadap pinus milik perhutani menjadi pekerjaan sambilannya.
Mereka juga tidak melewatkan kesempatan untuk menanam kapulaga dan daun sirih disekitar pohon pinus garapannya. Tanaman cengkeh yang tumbuh subur pun tidak terlewatkan untuk diambil manfaatnya sekalipun hanya daun-daun keringnya (kleyang). (tabloidpamor.com)