Kamis, 9 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

80 Ribu Lebih Nyawa Melayang Bangun Rel Kereta Api Muaro-Pekanbaru

Setidaknya, 81 ribu dari 102.300 romusha tewas mengenaskan untuk membangun rel kereta api hubungkan Muaro, Sijunjung, Sumetera Barat dengan Pekanbaru

Penulis: | Editor:

TRIBUNPEKANBARU.COM - Setidaknya, 81 ribu dari 102.300 romusha tewas mengenaskan untuk membangun rel kereta api menghubungkan Muaro, Sijunjung, Sumatera Barat, dengan Pekanbaru, Riau.

Sayangnya, apa yang telah dibangun dengan peluh, darah hingga nyawa itu, kini hanya tinggal kenangan saja berupa lokomotif dan kuburan para pekerja di Jalan Kaharuddin Nasution, Simpang Tiga, Pekanbaru, serta beberapa rel, lokomotif, dan gerbong di dalam hutan dan kebun warga.

Jalur rel kereta api Muaro-Pekanbaru memiliki panjang 220 kilometer yang dibangun Jepang demi membantu mereka untuk melawan tentara Sekut dalam Perang Dunia II. Jalan kereta api Muaro-Pekanbaru itu dibangun pekerja paksa (romusha) antara September 1943 dan Agustus 1945.

Jalur ini dikerjakan oleh mereka dan tawanan perang Belanda. Menurut laporan Palang merah Internasional, sekitar 80.000 dari 102.300 romusha didatangkan dari Pulau Jawa meninggal dan sekitar 700 tawanan perang Eropa juga ikut serta.

Rencana pembangunan jalur KA Muaro-Pekanbaru, dikutip dari Wikipedia, sudah dimulai sejak awal abad 20. Namun karena berbagai hal Kolonial Belanda belum tertarik untuk menindaklanjuti rencana ini.

Pada 1920, Staatsspoorwege melanjutkan kembali penjajakan telah dilakukan sebelumnya. SS menugaskan Ir. W.J.M. Nivel untuk mengkaji dan meneliti kemungkinan dibangunnya jalur kereta api ke pantai timur Sumatera. Beliau menuliskan laporan penelitian dan pedoman teknis pembangunan jalur ini dalam dokumen Staatsspoorwegen No 19 tahun 1927.

Akhirnya rencana pembangunan jalur KA ini ditunda setelah mempertimbangkan bahwa eksploitasi jalur KA ke arah Pekanbaru sebagian besar hanya mengandalkan Batubara maka menurut perhitungan, biaya pembangunan tidak sebanding dengan hasil diperoleh dari eksploitasi.

Selain itu, medan dilalui cukup berat dan banyaknya sarang nyamuk malaria yang dapat membuat biaya pembangunan membengkak. Namun pada saat masa pendudukan Jepang, jalur Muaro-Pakanbaru menjadi prioritas utama karena kebutuhan energi batubara untuk perang amat mendesak.

Lebih dari itu, Jepang memiliki sumber daya manusia yang banyak dan murah, yaitu romusha dan tawanan perang. Pada Maret 1943, rombongan romusha pertama tiba di Pekanbaru. Mereka bertugas membangun emplasemen di Pakanbaru untuk mempermudah pembangunan jalur KA menuju pedalaman.

Material rel dan bantalannya diambil dari Deli Spoorweg Maatschappij di Sumatera Utara. Namun ada juga pekerja melihat adanya material dari Malang Stoomtram Maatschappij.

Jepang juga mengambil kendaraan rel dan pegawai dari DSM. Ada 3 lokomotif DSM yang diambil. Dua di antaranya adalah lokomotif 1B1 buatan Hanomag. Pembangunan jalan rel dibangun secara asal-asalan karena masing-masing Tentara Jepang dan romusha tidak mengerti bagaimana cara membangun jalan rel yang baik.

Bantalan rel dibuat dari kayu apa saja yang ada di hutan, sehingga bantalan-bantalan tersebut pecah saat rel ditancapkan pada kayu tersebut. Apabila jalan rel melintasi rawa, rawa tersebut hanya diuruk ala kadarnya tanpa dipadatkan, sehingga tanah ini sangat rawan ambles apabila dilewati Kereta Api.

Jembatan rel yang dibangun pun dibuat seadanya sehingga konstruksi jembatan amat rapuh dan bisa saja ambruk sewaktu-waktu.

Di daerah Logas, menurut para insinyur SS seharusnya dibangun Terowongan menembus Bukit Barisan. Tetapi tentara Jepang tidak mengindahkan pendapat para Insinyur SS dan sebaliknya membuat jalur memutar di samping jurang dan membuat Talud yang konstruksinya amat buruk. Beberapa saat sebelum Jepang menyerah Kereta yang ditumpangi para romusha anjlok di tempat ini dan jatuh ke jurang. (berbagai sumber)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved