Breaking News:

Ikan Khas Riau, Terubuk, Bakal Tinggal Nama

Ikan terubuk, ikan yang hidup di muara Sungai Siak, semakin terancam punah. Masyarakat tangkap ikan ini sebelum ia bertelur.

Penulis: Afrizal | Editor:
Ikan Khas Riau, Terubuk, Bakal Tinggal Nama
internet

PEKANBARU, TRIBUNPEKANBARU.COM -  Bagi orang Melayu, tentu sering mendengar atau mengkonsumsi ikan terubuk. Di Riau, ikan ini kerap dijumpai di Kabupaten Bengkalis. Tapi tahukah kita, ikan migrasi ini mulai terancam punah.

"Hasil kajian, saat ini hanya ada sekitar 200 ribu ekor saja. Ikan ini terancam punah," ujar Ketua Program Studi Magister Ilmu Kelautan Universitas Riau, Deni Efizon, Jumat (30/1/2015).

Fokus pada kajian ikan terubuk, menurut Deni, ikan ini hanya bisa ditemukan di beberapa tempat saja di belahan dunia. Selain di Bengkalis, terdapat juga di Serawak Malaysia, Sungai Mekong Vietnam, Cina, Bangladesh hingga laut Arab.

Selain jumlah mulai terbatas, ukuran ikan ini pun tidak lagi besar. Ia mencontohkan ikan terubuk di Bengkalis, rata-rata hanya berbobot setengah kilogram per ekor. Paling besar hanya berbobot 700 gram.

Ikan ini memiliki pola hidup cukup unik. Sebagai hewan migrasi, ikan terubuk besar di laut. Namun saat pemijahan, ikan ini berpindah ke muara. Setelah berumur 30 hari, ikan-ikan ini akan ke laut dan kembali lagi ke muara seperti yang induk mereka lakukan.

Ikan terubuk juga termasuk jenis hermaprodit. Setelah berumur enam bulan, seluruh ikan mulai berubah menjadi betina. Saat berumur setahun, semuanya sudah menjadi ikan betina. Bila bertelur, ikan ini bisa hasilkan 60 ribu-200 ribu sekali bertelur.

Deni mengatakan, mulai punahnya ikan ini karena penangkapan saat mereka ke muara melakukan pemijahan. Bila satu ekor ikan saja ditangkap sebelum sempat melepaskan telur, maka potensi 60 ribu hingga 200 ribu telur akan langsung hilang.

Padahal ikan ini hanya dua kali sebulan masuk ke muara. Itu pun memiliki bulan-bulan puncak. Kedatangan ikan ini berdasarkan gerak bulan yaitu saat bulan terang. Rata-rata pada tanggal 13-16 bulan Qomariah (Arab).

Pada hari-hari tersebut bulan sangat terang. Kali kedua, pada tanggal 29-31 hari sebuai bulan arab. Pada tiga hari tersebut, bulan tidak ada sehingga dikenal bulan gelap. "Hari lain mereka tidak ada ke muara," katanya.

Untuk menjaga agar ikan terubuk tidak punah, sudah ada surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 59 tahun 2011 tentang perlindungan terbatas ikan terubuk di Riau.

Agar ikan ini masih bisa dinikmati anak cucu, tambah Deni, nelayan bisa dilarang menangkapnya pada bulan-bulan puncak yaitu Agustus, September, Oktober dan November. Satu bulan, larangan hanya berlaku delapan hari saja.

"Salah satu cara menjaganya, minta nelayan membatasi penangkapan. Mereka jangan menangkap pada bulan terang dan bulan gelap serta bulan puncak," katanya.

Tahun 1970-an, lanjut Deni, ikan terubuk ukuran lebih dari satu kilogram per ekor masih bisa ditemukan di perairan Bengkalis.

Kebijakan lokal ikut menjaga kehadiran ikan tersebut. Hingga tahun 1960-an, menurut Deni masih ada tradisi cuci kaki oleh Laksamana Raja Dilaut. Kala itu dua kali sebulan dilakukan tradisi cuci khaki.

Beberapa hari sebelum dan sesudah mencuci kaki, masyarakat dilarang melakukan penangkapan ikan terubuk. Cuci kaki oleh Laksamana dilakukan pada hari yang menjadi masa pemijahan dan pergerakan ikan terubuk hendak ke muara. Saat ini, ikan Terubuk ditangkap nelayan di perairan Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti. (afrizal)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved