Goresan Jiwa Gowes Asia Tenggara
Aku Bersepeda Merasa Telah Bertamu ke Kerajaan Sulaiman (29)
Kita dalam sekejap menjadi seorang ahli matematika ulung dengan semua kecenderungan ini.
Wing Sentot menilai bahwa ukuran materi tak lantas menjamin kebahagiaan. Kelegaan dan kegembiraan sejatinya adalah rasa syukur.
INILAH sebagian pikiran yang ada di benakku saat bersepeda keliling negara-negara di Asia Tenggara. Boleh jadi setelah kita membeli sesuatu di kedai atau di super market mini, pikiran kita akan suntuk oleh perbedaan satuan mata uang rupiah dan ringgit, atau Bat dengan Dong.
Begitu juga saat kita tiba di setiap wilayah perbatasan atau di setiap negara. Setiap kali kita menukar mata uang, pikiran-pikiran seperti itu akan menganggu dan boleh jadi akan menambah beban bersepeda kita. Ini tentunya menyusutkan rasa nyaman dan enjoy-nya bersepeda. Seolah-olah setiap orang adalah momok dan pemeras juga perompak mengerikan yang mesti terus menerus kita curigai.
Kita dalam sekejap menjadi seorang ahli matematika ulung dengan semua kecenderungan ini. Tapi boleh jadi juga akan menjadi pecundang yang hanya akan menjadi bulan-bulanan pikiran iseng yang menyuntikkan komersialisme dan konsumerismnya.
Sekaligus menyulap kesadaran dan daya hidup menjadi sia-sia. Dengan bersepeda juga akhirnya aku mulai mengerti bahwa ras, etnis, suku dan kebangsaan. Adalah keniscayaan yang berputar dari waktu ke waktu.
Pemahamannya sebagaimana ruji-ruji velg kedua roda sepedaku. Jual-beli, mata uang dan bahasa adalah kontruksi modernitas yang terus mencari bentuknya. Maka aku pun bersepeda, sebab aku punya kesanggupan itu. Kalau kesanggupanku naik mobil, mengendarai motor, pesawat, atau tank sekalipun. Kenapa tidak? Asal kesadaran itu masih mampu imun dan sanggup memahami hikmahnya?
Maksudku, memahami dan menemukan hakekat sifat itu lebih utama. Ketimbang terbentur dengan sebutan wadagnya itu. Dan itulah realitas riil dari kesanggupan adikodrati kita. Dan bukan kamuflase, keterlenaaan semu dari realitas dan ketergantungan pada semua wadag mesinnya.
Meskipun memang tak lagi banyak orang yang bersungguh-sungguh untuk mengenali dan segera kembali menyadari keterlalaian ini. Dengan bersepeda aku merasa telah bertamu ke kerajaan Sulaiman, meski tak perlu berjingkat di atas lantai kacanya si Ratu Balqis. (*)
Baca lanjutannya di www.tribunpekanbaru.com.
FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru dan LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru