WOW. Sebanyak 97 Persen Remaja Pernah Akses Konten Pornografi
Bagaimana tidak, GN-AKSA mencatat, 97 persen remaja saat ini sudah pernah melihat materi porno.
Penulis: | Editor:
PEKANBARU, TRIBUNPEKANBARU.COM - Data Gerakan Nasional Anti Kekerasan Seksual Anak (GN-AKSA) terkait perilaku seksual remaja di Indonesia sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan.
Bagaimana tidak, GN-AKSA mencatat, 97 persen remaja saat ini sudah pernah melihat materi porno.
Tidak hanya itu, Eri Pratama Putra dari GN-AKSA bahkan menyebutkan, 64 persen remaja sudah pernah ciuman bibir dan 12,4 persen lagi pernah melakukan oral seks. Data dari GN-AKSA itu berdasarkan survei terakhir dilakukan akhir 2014 lalu.
"Ini butuh pengawasan orangtua. Dari data tersebut, anak remaja di bawah usia 18 tahun masih harus diawasi orangtua. Termasuk saat menggunakan media sosial. Karena informasi begitu mudah didapatkan dan hal yang buruk mudah diserap remaja dibandingkan hal yang baik," katanya dalam sebuah seminar di Pekanbaru, Senin (6/4/2015) lalu.
Terkait data itu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Riau, Hj Lisda Erni melalui Kabid Perlindungan Anak Dra Duni Sriwarni mengaku prihatin.
"Mendengar jumlah 97 persen itu kami prihatin. Karena sekarang akses untuk mendapatkan gambar atau hal yang tidak baik sangat mudah karena kecanggihan teknologi," katanya.
Data GN-AKSA itu bukan isapan jempol belaka. Buktinya, sejumlah siswa yang diwawancarai Tribun, Selasa (7/4/2015), mengakui pernah melihat materi porno.
Maraknya gawai seperti ponsel cerdas semakin mempermudah kalangan remaja mengakses materi porno tersebut.
Seperti halnya Ahmad. Siswa sebuah SMK di Pekanbaru ini mengaku pertama kali melihat gambar porno saat duduk di kelas X.
"Pas SMP masih HP senter (ponsel jenis candybar), jadi cuma buat komunikasi saja. Pas SMK baru dikasih ponsel Android. Kalau lihat gambar itu (porno) sih pernahlah. Karena penasaran aja. Kalau video porno cuma sekilas saja. Soalnya lebih suka lihat anime (animasi Jepang)," katanya.
Ia mengaku hanya beberapa kali melihat gambar porno karena bersama temannya. Setelahnya, ia tidak melanjutkan mengakses gambar cabul tersebut.
Senada dengan Ahmad. Aan, siswa di SMA swasta di Pekanbaru ini juga mengakui pernah melihat gambar porno.
"Saya lihat pertama kali waktu SMP. Ingin lihat saja, penasaran, tahunya dari televisi, pas nonton film," katanya saat ditanya alasan mengakses materi pornografi itu.
Sementara itu, sebagai langkah antisipasi, sejumlah sekolah sudah menerapkan beberapa cara. Di SMAN 3 Pekanbaru misalnya. Menurut Rohani, staf sarana dan prasana, di sekolah itu kerap dilakukan razia ponsel.
"Alhamdulillah tidak ada ditemukan hal yang tak baik. Walaupun kami masih memperbolehkan siswa menggunakan smartphone karena kubutuhan informasi, tapi kalau main ponsel (di kelas) tentu akan disita," katanya. (sari rezki antika)