Kamboja Gunakan Tikus untuk Mengendus Ranjau Darat
Militer Kamboja tengah melatih tikus untuk mendeteksi ranjau darat yang masih banyak terdapat di titik pedesaan setelah konflik puluhan tahun
TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMBOJA - Hanya dibutuhkan 11 menit bagi Pit untuk mendeteksi ranjau darat yang ditanamkan di sebuah lahan di Kamboja.
Tapi Pit bukanlah manusia. Dia adalah seekor tikus yang bergabung dalam tim elit tikus yang diimpor dari Afrika. Bila pendeteksian ranjau dilakukan oleh manusia secara langsung maupun dengan detektor logam yang canggih, waktu yang dibutuhkan lebih lama, bisa mencapai lima hari.
Militer Kamboja saat ini tengah melatih tikus untuk mendeteksi ranjau darat yang masih banyak terdapat di titik pedesaan setelah konflik puluhan tahun.
"Di bawah langit yang cerah ia akan menjadi lebih cepat. Ini adalah tikus yang menyelamatkan jiwa"ungkap Hul Sokheng yang mengawasi pelatihan tikus tersebut seperti yang dilansir dari Thanthiennews dari Reuters.
Pit mampu mencium bau TNT yang sangat eksplosif dalam ranjau darat. Jenis tikus ini pun cukup berbeda karena ukurannya yang lebih besar dari tikus pada umumnya, memiliki satu mata, dan memiliki kantung di badannya. Dalam proses pendeteksian tikus itu diikatkan pada semua tali.
Sekitar 15 tikus diimpor dari Tanzania, Afrika dan dilatih oleh para ahli serta veteran yang bergerak di bidang pendeteksian dan penjinakkan ranjau darat.
Pada pelatihan yang dilakukan. Pit akan mengedus bau TNT, berhenti, menggali tanah sedikit dan kemudian usahanya ini dihargainya dengan pisang oleh sang pawang.
Kemampuan tikus elit ini sudah dilatih sejak mereka berusia empat minggu. Salah satu keuntungan terbesar menggunakan tikus sebagai detektor adalah tidak memicu ledakan. Ranjau darat tidak akan meledak karena tikus tidak cukup berat untuk memicu sebuah ledakan.
Kemampuan hewan ini telah dibuktikan dengan mendekteksi ranjau darat di area bekas konflik Kamboja puluhan tahun lalu.
Sebelumnya wilayah yang mencakup pedesaan serta ladang pertanian sempat tidak aman karena adanya ledakan dari ranjau yang tak terdeteksi. Sejak 1979, setidaknya sudah 20 ribu warga yang tewas dan 44 ribu lainnya luka-luka. (*)