Selasa, 28 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kabut Asap Tahun Ini yang Terburuk dalam Sejarah

Krisis kabut asap tahun ini sudah membuat banyak aktivitas dan kesehatan terganggu.

Editor: Ariestia
TribunPekanbaru/TheoRizky
Murid SD Homeshooling Group (Hsg) Khoirul Ummah 40, Jalan Delima Pekanbaru menggelar aksi menolak asap di halaman sekolah mereka, Rabu (30/9) 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Seorang ilmuwan di Goddart Institute for Space Studies NASA, Dr Robert Field, menyebut asap kebakaran hutan Indonesia yang menyelimuti beberapa negara Asia Tenggara sebagai krisis polusi udara terburuk sepanjang sejarah.

Menurut NASA, dikutip oleh The Straits Times, masalah kabut asap ini sudah hampir separah masalah serupa yang pernah terjadi pada 1997 lalu.

Saat itu, kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan bencana kabut asap yang melanda Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Thailand.

Krisis kabut asap tahun ini sudah membuat banyak aktivitas dan kesehatan terganggu.

Berbagai kritik dari negara-negara tetangga terus mengkritisi Indonesia atas upayanya yang dinilai belum cukup untuk mengatasi masalah ini.

"Kondisi di Singapura dan Sumatera sudah semakin mendekati (kondisi) pada 1997," ujarnya.

Robert juga memperingatkan musim kering yang berkepanjangan ini akan semakin memperburuk tingkat polusi udara dan membuatnya memecah rekor terburuk.

"Jika hasil prakiraan cuaca tetap bertahan di musim kering, ini akan membuat 2015 masuk peringkat terparah dalam rekor. Kabut asap pun akan semakin tebal," ujarnya

Global Fire Emissions Database, yang didukung oleh NASA, memperkirakan sekitar 600 juta ton gas rumah kaca telah dihasilkan oleh kebakaran pada tahun ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi, kerugian ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi karena kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia pada 2015 bisa melebihi angka Rp 20 triliun.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, yang kemudian menimbulkan bencana kabut asap, bukan yang pertama kali.

Dalam 20 tahun terakhir, bencana serupa hampir setiap tahun terjadi.

Sementara Walhi mengungkapkan dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi dengan kebakaran hutan terparah yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau.

Titik-titik panas tersebut berada di konsesi perusahaan. Beberapa di antaranya yaitu Kalimantan Barat ada 2.495, Kalimantan Tengah 5.672, Riau 1.005, Sumatera Selatan 4.416 dan Jambi 2.842.

Nilai ISPU di daerah-daerah tersebut dalam beberapa waktu belakangan sudah di atas level berbahaya.

Contoh di Kalimantan Barat, indeks standar pencemaran umum (ISPU) sempat mencapai angka 1.300 atau empat kali lipat level berbahaya (di angka 300-500), sementara nilai ISPU rata-rata mencapai 600-800.

Bencana kabut asap tak hanya menimpa dua negara tetangga Singapura dan Malaysia tapi juga sudah merambah ke Filipina.

Pulau Cebu di Filipina dikabarkan sudah tujuh hari diselimuti kabut asap, kata dinas cuaca setempat.

Angin yang bertiup dari Indonesia ke arah pusat Filipina diperkirakan membawa kabut asap.

Sampai saat ini Malaysia, Singapura dan sebagian daerah Indonesia ditutupi kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan

Rabu lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan, Indonesia memerlukan waktu untuk menyelesaikan masalah pembakaran lahan dan hutan yang mengakibatkan kabut asap.

Tiga tahun adalah waktu yang diperlukan untuk melihat hasil dari upaya mengakhiri masalah yang muncul setiap musim kemarau itu.

"Kabut asap bukanlah perkara yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat," kata Presiden.

Buat Film

Sutradara Joko Anwar berencana akan memproduksi sebuah film yang bercerita tentang bencana kabut asap yang hingga kini masih melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Film ini direncanakan akan mulai syuting pada tahun ini juga dan mengambil setting di wilayah yang memang rentan pembakaran hutan.

"Kemungkinan besar daerahnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Set cerita dan skenario sudah ada," ujar Joko.

Namun, sutradara yang pernah memenangi penghargaan Film Terbaik dan Skenario Terbaik pada Festival Film Indonesia 2008 ini, mengaku belum menentukan para aktor yang berperan dalam karyanya tersebut.

"Saya berencana merekrut aktor dari orang-orang lokal," katanya.

Sementara terkait kabut asap yang terjadi di beberapa daerah, lelaki kelahiran Medan yang pernah mendapat penghargaan dari New York Asian Film Festival itu, meminta agar hukum tetap ditegakkan dengan menangkap para tersangka pembakaran hutan. (Tribun Medan/Tribunnews).

Sumber: Tribunnews
Tags
Kabut Asap
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved