Mendagri: Propaganda SARA di Media Masuki Fase Lampu Merah!

Kita harap tidak ada apa-apa, tetapi gerakan dari luar melalui propaganda di media

Tribun Jabar/Dony Indra
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo usai upacara pengukuhan calon praja di Institut Pemerintah Dalam Negeri, Jatinangor, Sabtu (22/11/2014). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta jajaran pemerintah daerah untuk mengantisipasi munculnya propaganda yang diarahkan pada isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Tjahjo menilai, tidak semua persoalan yang terjadi di Indonesia berakar dari masalah agama.

"Kita harap tidak ada apa-apa, tetapi gerakan dari luar melalui propaganda di media, ini sudah mulai pada posisi lampu merah yang harus kita cermati bersama," ujar Tjahjo dalam acara Harmonisasi Kerukunan Umat Beragama di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Menurut Tjahjo, pada dasarnya masyarakat Indonesia sudah memiliki pemahaman yang tinggi mengenai perlunya toleransi.

Namun, diakuinya, masih ada sejumlah pihak yang sengaja menggunakan isu SARA untuk memperuncing masalah.

Misalnya, massa yang terlibat dalam perselisihan pemilihan kepala daerah serentak yang mulai menggunakan isu SARA untuk menyebarkan propaganda.

Kasus lainnya adalah pembakaran masjid di Tolikara, Papua, dan pembakaran gereja di Aceh Singkil.

"Kasus Tolikara bukan agama, Aceh Singkil juga bukan karena umat beragama. Apa pun, Indonesia adalah majemuk, kerukunan sudah jadi jati diri yang seharusnya tidak menimbulkan masalah ke depan," ujar Tjahjo.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah hingga ke tingkat terkecil diminta meningkatkan koordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta TNI/Polri untuk mendeteksi dini berbagai propaganda yang diarahkan pada isu-isu keagamaan. (*)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved