Prostitusi Online

Pelanggan Jasa Dion Ini Ngaku Sekali Kencan Tarifnya Rp 2 Juta

"Semua wanita yang dipekerjakan dalam kasus prostitusi oleh DN merupakan mahasiswi yang ada di Pekanbaru," kata AKP Bimo Aryanto

Pelanggan Jasa Dion Ini Ngaku Sekali Kencan Tarifnya Rp 2 Juta
Tribun Bali/Net
Ilustrasi PSK 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sidang pemeriksaan saksi pada kasus prostitusi online dengan terdakwa Dion Naldo, kembali digelar di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Senin (21/12/2015) siang.

Sidang yang berlangsung tertutup itu menghadirkan dua orang saksi, seorang lelaki paruh baya dan perempuan cantik yang mengenakan jilbab.

Perempuan yang diketahui berinisial SA tersebut merupakan anak asuh dari terdakwa Dionaldi. "Kesaksian mereka berisikan tindakan asusila, dan sesuai KUHAP harus dilakukan secara tertutup," ungkap Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Ivan Yoko, usai sidang.

Menurut Ivan, seorang pria yang juga dimintai keterangannya berinisil HL. Ia merupakan pelanggan terdakwa.

Kedua saksi yang dihadirkan, itu membenarkan segala kegiatan Dion, yakni menjalankan bisnis prostitusi secara online. "Saksi SA mengaku sudah setahun terakhir menjadi anak asuh Dion. Namun diakuinya baru sekali diminta Dion melayani pelanggan," ujar Ivan.

Dalam persidangan juga terungkap jika terdakwa Dion sering main ke salon-salon. Di salon Dion banyak bertemu dengan wanita-wanita cantik yang kemudian ditawarinya pekerjaan.

"Kebetulan saksi juga membutuhkan uang, jadi tawaran tersebut diterimanya," terang Ivan.

Sementra itu, saksi HL yang merupakan pelanggan mengaku sudah lima kali menggunakan jasa dari terdakwa Dion. "Dua di antaranya merupakan mahasiswi. Sekali kencan tarifnya Rp 2 juta rupiah," papar Ivan.

Sidang yang dipimpin Hakim Ketua, Sorta Ria tersebut akan kembali dilanjutnya pekan depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi-saksi.

Dalam persidangan sebelumnya kala Dion Naldo menjalani persidangan perdana di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Selasa (15/12/2015), dengan agenda pembacaan dakwaan, pria 24 tahun itu duduk di kursi pesakitan tanpa didampingi penasihat hukum.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved