Breaking News:

Tour de Kilometer Nol Sabang Trio Lisoi

Trio Lisoi Menginap Gratis di Tiga Kota

Mimpi indah kami bagi bertiga, saya (Tasman Jen, 60), Yosef P Situmorang (66), dan Abasri Piliang (59), berganti kenyataan indah

Editor: harismanto
Facebook/Tasman Jen
Trio Lisoi bersama komunitas sepeda Payakumbuh dan Kapolres Payakumbuh, AKBP Yuliani sedang menikmati makan siang bersama 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Trio Lisoi yang terdiri dari tiga kakek pesepeda asal Pekanbaru yang memulai perjalanan menuju titik kilometer nol Sabang di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, mendapat sambutan hangat dari komunitas sepeda di setiap kota yang disinggahi.

Mimpi indah kami bagi bertiga, saya (Tasman Jen, 60), Yosef P Situmorang (66), dan Abasri Piliang (59), berganti kenyataan indah saat pagi menjelang di kediaman Datuk Suar, tempat kami menumpang, di kaki Lembah Harau, Kabupaten 50 Kota.

Udara dingin yang masih dibalut kabut tipis, menjadi semarak dengan kicauan burung. Hamparan sawah luas di depan rumah Pak Datuk Suar, menyempurnakan keindahan pagi itu. Saya bergegas keluar rumah untuk mandi di sebuah sungai yang tak jauh dari rumah.

Usai menunaikan Salat Subuh, saya lihat sebagian kawan masih meringkuk kedinginan. Sementara dari dapur saya mulai mendengar ada kesibukan tuan rumah mempersiapkan sarapan bagi kami.

Selesai sarapan dan berbenah kami pamitan pada keluarga Pak Datuk Suar dan meluncur ke Mapolres Payakumbuh. Di tengah perjalanan hujan lebat mengguyur dan kami tetap melaju karena sudah ditunggu Pak Djarot serta kawan-kawan komunitas sepeda Payakumbuh.

Mengejutkan, ternyata di antara komunitas sepeda itu ada Kapolres Payakumbuh, AKBP Yuliani. Hebatnya, sang Kapolres adalah seorang perempuan. Ibu Yuliani, begitu kami menyapanya, sangat ramah dan mendukung perjalanan kami yang dilabeli tagline “ Tour de Kilometer Nol Sabang Nusantara Indonesia”. Kami pun diberi souvenir sebagai kenang-kenangan.

Usai sambutan non formal tersebut kami dilepas melanjutkan perjalanan ke Kota Bukittinggi yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Payakumbuh. Kami ditemani lima orang dari komunitas sepeda Payakumbuh.

Sekitar pukul 11.00, 19 Januari 2016 itu, kami tiba di Bukittinggi.. Pak Djarot dan kawan-kawan mengarahkan kami mencari makan khas Mnang yaitu Nasi Kapau di los lambuang, Pasar Lereng.

Saya memesan lauk favorit yaitu pangek ikan emas bertelor. Setelah melepas selera, kami beranjak ke kawasan Jam Gadang yang tidak terlalu jauh dari los lambung. Seperti biasa, disetiap tempat yang disinggahi selalu menyempatkan diri berfoto di lokasi yang ikonik, salah satunya ya Jam Gadang.

Sekitar pukul 13.00 hujan mulai turun. Hingga pukul 14.00 masih belum reda juga, bahkan makin deras. Akhirnya kami memutuskan menginap di Bukittinggi, sebelum meneruskan perjalanan ke Pasaman.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved