Tour de Kilometer Nol Sabang Trio Lisoi

Trio Lisoi Mampir di Barus Kota yang Terlupakan

Stamina Trio Lisoi, Tasman Jen (60), Yosef P Situmorang (66), Abasri Piliang (59) serta dua rekan benar-benar diuji di jalan menuju Dolok Sanggul

Facebook/Tasman Jen
Trio Lisoi di Desa Sagala 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Stamina Trio Lisoi, Tasman Jen (60), Yosef P Situmorang (66), Abasri Piliang (59) serta dua rekan tambahan, Gozy Abdullah dari Batam dan Ucup dari Bukittinggi, benar-benar diuji di jalan menanjak menuju Dolok Sanggul.

Deburan ombak pagi pantai Binasi seolah memberi energi untuk kami pada hari yang cerah ini, Minggu, 31 Januari 2016 . Kami melanjutkan perjalanan ke arah Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, yang berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Pantai Binasi. Jalan yang datar dan mulus sangat enak untuk memacu sepeda lebih laju.

Opung Yosef P Situmorang yang duluan di depan sudah tidak kelihatan lagi. Di belakangku beriringan Abasri Piliang, Ucup dan Gozy. Di pertigaan, kalau belok kanan berarti ke Dolok Sanggul, sedangkan ke kiri adalah Kota Barus lama.

Kami tidak menyia-nyiakan untuk melihat langsung kota bersejarah itu. Setengah jam perjalanan kami sampai di pasar Barus. Di sana, ada bekas puing-puing benteng pertahanan Belanda yang bersebelahan dengan ladang penduduk. Kami berjalan ke arah barat menuju pelabuhan kapal yang sudah dipugar namun terlihat kosong dan sepi. Saat itu hanya anak-anak yang sedang bermain. Sungguh kontras dengan kejayaan masa lalunya.

Dari literatur yang saya baca, sesungguhnya Barus merupakan sebuah kota yang banyak menyimpan rahasia. Sejak awal abad pertama Masehi, kawasan Barus Raya, yang berada di Pantai Barat Sumatera (Sumatera Utara), diyakini menempati posisi penting dalam sejarah perdagangan internasional.

Hasil penelitian dengan pendekatan arkeologi-sejarah di situs Lobu Tua menunjukkan, banyak fakta temuan akhirnya menuntun para ahli pada kesimpulan bahwa kawasan ini telah berperan sebagai pusat bandar niaga internasional selama berabad-abad. Berita tentang eksistensi Barus sebagai bandar niaga, ditandai oleh sebuah peta kuno abad ke-2 yang dibuat oleh Claudius Ptolemeus, seorang gubernur di Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir.

Di sana disebutkan bahwa di pesisir Barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barossai yang menghasilkan parfum (wewangian), yang dikenal sebagai produsen kapur barus. Komoditas ini sangat disukai dan menjadi komoditas penting untuk kawasan Asia dan Eropa.

Kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah Dolok Sanggul. Di Desa Aek Daka, persis di suatu tanjakan yang tinggi saya berhenti beristirahat. Di sana saya melihat banyak penziarah ke kuburan Mahligai, saya pun ingin tahu.

Sepeda saya titipkan di warung pinggir jalan. Kemudian saya berjalan kaki ke sebuah bukit lebih kurang setinggi 300 meter. Di sebuah dataran terdapat satu pendopo, di situ berkumpul beberapa peziarah yang sedang duduk istirahat dan ada yang sedang makan dan bercerita. Di sana, saya didatangi Pak Djamaluddin yang terlihat seperti penduduk lokal dan bersemangat memberikan informasi, seperti guide, kepada saya.

Sepintas tidak ada yang terlalu istimewa di sana hanya ada batu batu nisan dan jika diperhatikan tulisan pada batu tersebut bertuliskan huruf arab. Dari literatur yang saya baca, perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab.

Halaman
123
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved