Tour de Kilometer Nol Sabang Trio Lisoi

Trio Lisoi Belajar Demokrasi di Huta Siallagan

Mengelilingi Danau Toba dengan sepeda memiliki sensasi tak terlupakan bagi Trio Lisoi, tiga kakek pesepeda asal Pekanbaru.

Facebook/Tasman Jen
Mengelilingi Danau Toba dengan sepeda memiliki sensasi tak terlupakan bagi Trio Lisoi, tiga kakek pesepeda asal Pekanbaru. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Mengelilingi Danau Toba dengan sepeda memiliki sensasi tak terlupakan bagi Trio Lisoi, tiga kakek pesepeda asal Pekanbaru. Toba, bak sepotong surga yang terlempar ke bumi.

Sepanjang Selasa (2/2/2016) lalu, Trio Lisoi yang terdiri dari saya (Tasman Jen, 60), Yosef P Situmorang (66), Abasri Piliang (59) serta dua rekan tambahan, Gozy Abdullah dari Batam dan Ucup dari Bukittinggi, benar-benar beristirahat total di rumah anak Opung Yosef di Dolok Sanggul.

Kalaupun ada aktifitas, kawan-kawan hanya sekadar mengecek kondisi sepeda mencuci pakaian kotor. Kami memang butuh istirahat untuk mengumpulkan energi melanjutkan etape selanjutnya, yakni mengelilingi Danau Toba dan menyeberang ke Pulau Samosir. Selain itu energi kami cukup tersedot saat menuju Dolok Sanggul yang bermedan menanjak.

Saya sendiri pergi ke dokter mata untuk mengecek mata yang terasa meradang setelah operasi lemak beberapa bulan lalu. Obat dari Pekanbaru yang dikirimkan istri, saya lihatkan ke dokter mata dan dinyatakan bisa dilanjutkan pemakaiannya.

Satu hari bersama keluarga Dokter Pantas, anak Opung Yosef yang baik hati sangat memberatkan hati kami meninggalkan mereka. Apalagi mereka membeli makanan cukup banyak saat melepas keberangkatan kami.

Pada Rabu (3/2) pagi, dari Dolok Sanggul kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan Kota Pangunguran di Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba. Menjelang simpang Tele, saya, Ucup dan Gozy nyaris nyasar karena lupa membelok karena sepeda terlalu melaju. Kami bertiga mundur lagi dan kembali ke simpang Tele, tampak Opung Yosef dan Abasri sudah menunggu.

Dari simpang Tele ini, kami meluncur turun dari ketinggiaan 2000 mdpl dengan kemiringan jalan 30 derajat. Suhu yang dingin membuat jari-jari ini terasa kaku menekan rem. Kami beristirahat sejenak di menara Tele di Kecamatan Harian.

Pemandangan dari atas menara Tele ini luar biasa indah tatkala memandangi Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya. Pulau Samosir yang dipagari oleh hamparan jurang terjal menghijau dengan pinggiran jalan melingkar-lingkar sampai ke dasar bukit sungguh menakjubkan. Pantaslah Samosir yang dikelilingi Danau Toba disebut negeri indah kepingan surga.

Danau Toba terbentuk akibat letusan Gunung Toba pada 73 ribu tahun lalu. Letusan ini tercatat sebagai letusan gunung api terbesar yang mempengaruhi iklim di seluruh dunia. Sebagai danau hasil volcano tektonik terbesar di dunia, danau ini menjadi salah satu aset yang penting bagi Indonesia.

Keindahan alam Danau Toba telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Perairan danau yang biru, penduduknya yang sangat ramah, sapaan ramah "Horas" sering kami dengar dari penduduk. Sebuah budaya batak yang mempesona.

Halaman
123
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved