Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Agar Proposal Disetujui, Peneliti Dipaksa Mendramatisir Risetnya

Penelitian ini menanyai 50 akademisi yang tidak disebut namanya di Inggris dan Australia.

Editor:
Foto Asahi
Hasil penelitian Lembaga Riset MMD Jepang terhadap Fungsi HP Anak-anak. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Para peneliti di Australia mengatakan mereka 'terpaksa' melebih-lebihkan dampak dari penelitian yang ingin mereka lakukan, ketika mereka mengirimkan proposal agar mudah disetujui.

Namun Kepala Dewan Riset Australia membantah pernyataan dari para peneliti bahwa mereka harus 'menipu' untuk mendapatkan dana penelitian, dengan mengatakan bahwa ada perbedaan antara 'spekulasi' dan 'menipu'.

Ungkapan itu muncul dalam penelitian mengenai sistem pemberian dana baru dimana para peneliti diminta untuk menjelaskan dampak penelitian mereka ketika mengajukan pendanaan.

Penelitian ini menanyai 50 akademisi yang tidak disebut namanya di Inggris dan Australia.

Ke-25 peneliti asal Australia ini mengatakan bahwa sulit sekali memberikan jawaban yang akurat ketika harus menjelaskan kemungkinan dampak penelitian mereka.

"Rasanya hampir tidak mungkin menulis dengan sejujurnya mengenai apa yang akan anda lakukan." kata seorang akademisi.

"Saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Apakah seperti misalnya "Saya Columbus, saya akan menemukan West Indies." kata seorang akademisi lainnya.

"Hampir tidak mungkin menulis proposal penelitian untuk diajukan ke Dewan Riset Australia tanpa harus berbohonng, dan masalah ini harus mendapat perhatian dari mereka." kata akademisi ketiga.

Dr Richard Watermayer dari Universitas Bath di Inggris yang menjadi salah satu penulis laporan mengatakan bahwa proses pendanaan ini masih bisa diperbaiki.

"Ada masalah yang harus dibicarakan lebih lanjut." kata Dr Watermayer.

"Ada yang terpaksa melakukan tindak berlebihan, karena dalam banyak kasus, mereka memang tidak bisa menduga apa dampak dari penelitian yang akan mereka lakukan."

Menurut Kepala Dewan Riset Australia Professor Aidan Byrne, sejumlah kecil penelitian yang masuk memang terlalu 'melebih-lebihkan', namun sebagian besar akurat, dan semuanya mendapat kajian yang seksama.

"Proposal mereka dikaji oleh para ahli yang sudah memiliki ketajaman untuk melihat apa yang bagus dan mana yang tidak, mana yang palsu, dan mana yang rasional." kata Aidan Byrne. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved