Selasa, 14 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Ahok: Saya Pusing Juga, Padahal Sudah Saya Ganti dengan CEO-CEO!

Sejak tahun 1998, supply air curah untuk Jakarta tidak mengalami penambahan. Sebagian besar pasokan air tersebut

Editor:
TRIBUN NEWS / HERUDIN
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tiba di gedung KPK, Jakarta, untuk memenuhi panggilan sebagai saksi, Selasa (12/4/2016). Ahok memberikan keterangan seputar pembelian lahan milik RS Sumber Waras oleh Pemprov DKI pada akhir 2014. 

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginstruksikan PT Jakarta Propertindo untuk bekerja sama dengan PAM Jaya menambah pasokan air baku.

PT Jakarta Propertindo pun menggaet PT Memiontec Indonesia, perusahaan afiliasi dari Memiontec Singapura, untuk membangun water treatment plant (WTP).

Hal ini dilakukan setelah Ahok menilai PAM Jaya terlalu lamban menambah pasokan air baku di Jakarta.

"PAM terlalu lambat. Singapura contoh yang sangat baik, di Jakarta enggak ada alasan untuk enggak bangun. PAM bulan Mei tidak bisa beli tanah, uang triliunan nganggur. Mungkin bagi-baginya enggak pas ini komisinya," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (25/5/2016).

"Saya pusing juga, sudah ganti CEO-CEO padahal," tambah dia.

Dengan kerja sama ini, Memiontec Indonesia akan membangun dan mengoperasikan WTP. PAM Jaya sebagai pemilik Surat Izin Pengambilan Air (SIPA) air baku di Kanal Banjir Barat yang mengatur pasokan air baku. Nantinya, Palyja bisa membeli air baku dari Jakpro melalui supply air dari Memiontec Indonesia.

Selain itu, Ahok juga memaparkan penambahan sumber air baku tidak hanya dilakukan untuk kebutuhan. Melainkan juga dipasok untuk keperluan bisnis.

"Banyak perumahan enggak ada air padahal itu peluang bisnis. Lebih baik bangun baru daripada ngotot perbaiki pipa. PAM enggak berani, makanya Jakpro harus bisa. Harus cepat ini PAM. Saya udah sabar nunggu udah 4 tahun. Terlalu lambat, banyak alasan," ujar Ahok.

Sejak tahun 1998, supply air curah untuk Jakarta tidak mengalami penambahan. Sebagian besar pasokan air tersebut mengandalkan pasokan dari PT Jasa Tirta II dan saluran Tarum Barat.

Kebutuhan air minum juga masih mengandalkan pasokan air curah dari Tangerang. Saat ini, DKI Jakarta masih kekurangan air baku sekitar 9.000 liter per detik. Dengan kerjasama ini, kekurangan tersebut berkurang 500 liter per detik. (*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved