Ramadhan 1437 H

Puasa di Era Konsumerisme

Manusia dihadapkan pada pernak-pernik kehidupan yang mendorong untuk terus berbelanja guna memenuhi nafsunya yang tak pernah berujung.

Puasa di Era Konsumerisme
TribunPekanbaru/Donny Putra
Ilustrasi 

Oleh: KH Cholil Nafis Lc, PhD
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI

PENSYARIATAN puasa tidak hanya mengandung makna perintah dalam konteks ibadah, tetapi juga memiliki makna agar seorang muslim dapat menggunakaln rasionya dalam merespon realitas kehidupan.

Kehidupan modern menyuguhkan berbagai kemewahan dunia membuat banyak orang tidak memiliki pikiran yang panjang. Manusia cenderung mempeturutkan keinginan untuk meraihkan kepuasan saat ini dan mengabaikan persiapan masa depannya.

Inilah era konsumerisme. Manusia dihadapkan pada pernak-pernik kehidupan yang mendorong untuk terus berbelanja guna memenuhi nafsunya yang tak pernah berujung.

Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha-mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al Hasyr: 18). Ayat ini mengisyaratkan agar orang-orang yang bertakwa memperhatikan masa depannya.

Baik atau buruknya masa depan akan bergantung prilaku seseorang. Jika seseorang memperturutkan hawa nafsu dengan menghabiskan pendapatan rutinnya hanya untuk kepuasaan sesaat, masa depannya akan suram.

Karena sudah tidak ada lagi uang yang dicadangkan untuk masa depannya. Padahal berbagai risiko kehidupan menghadang, seperti kecelakaan, sakit, kematian mendadak, kebangkrutan, dan lain-lain.

Puasa yang didefiniskan ulama sebagai "menahan dari makan, minum, hubungan seksual" dapat diambil hikmahnya agar kita tidak konsumtif. Perintah tidak makan dan tidak minum sebenarnya mengandung ide moral agar manusia dapat mengendalikan diri terhadap keinginan.

Dalam kehidupan saat ini yang sangat mendorong manusia berprilaku konsumeristik, penerapan nilai-nilai puasa sangat tepat. Karena manusia harus menahan hawa nafsu untuk terus ingin berbelanja dan menghabiskan uangnya demi kepentingan sesaat.

Saat ini, berbagai perusahaan yang memproduksi alat pemuas kebutuhan manusia terus bersaing mempromosikan produk-produknya. Bahkan banyak di antaranya yang mempermudah konsumen dalam mendapatkannya melalui fasitilas kredit.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved