Dukung Gerakan Orangtua Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, DPD RI Minta Perpeloncoan Dihentikan

Tentu gerakan itu sangat baik sekali untuk tumbuh kembang anak. Ini akan membuat anak merasa diperhatikan dan

Dukung Gerakan Orangtua Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, DPD RI Minta Perpeloncoan Dihentikan
Istimewa
Rosti Uli Purba, anggota DPD RI asal Provinsi Riau 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Provinsi Riau, Rosti Uli Purba mengapreasiasi kebijakan Menteri Pendidikan Kebudayaan terkait gerakan antar anak di hari pertama sekolah. Menurutnya, gerakan tersebut sebagai terobosan baru untuk memperkuat hubungan batin antara anak dan orangtua, sekaligus memastikan komunikasi sekolah dengan wali/ orangtua murid bisa terjalin dengan baik.

"Tentu gerakan itu sangat baik sekali untuk tumbuh kembang anak. Ini akan membuat anak merasa diperhatikan dan disayangi. Sekaligus juga orangtua bisa mengenal secara langsung lingkungan sekolah yang baru, guru dan tenaga kependidikan. Sehingga orangtua bisa ikut memantau jalannya proses pendidikan anak," kata Rosti Uli Purba kepada Tribun, Senin (18/7/2016).

Senator perempuan asal Bumi Lancang Kuning ini menegaskan, hubungan antara orangtua/ wali dengan pihak sekolah begitu penting. Pasalnya, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak yang menjadi sarana pembinaan karakter dan kecerdasan anak. Sehingga, orangtua tidak bisa begitu saja menitipkan anak ke sekolah dan mengharapkan anaknya bisa dididik dengan baik.

"Peran orangtua mestinya terlibat secara aktif dan berpartisipasi dalam mengawal, mendukung dan mengikuti perkembangan anaknya di sekolah. Jadi, tak sekedar menagih tugas sekolah untuk berbuat yang terbaik untuk anaknya. Namun juga orangtua mestinya berkomunikasi dengan pihak sekolah secara rutin dan berkelanjutan. Dalam hal ini, pihak sekolah tentunya bisa membuka komunikasi yang efektif," tegas Rosti Uli.

Ia menegaskan, sebenarnya gerakan antar anak di hari pertama masuk sekolah tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Namun, diharapkan ada proses-proses komunikasi yang terjadwal antara pihak sekolah dan orangtua/ wali untuk membicarakan tentang perkembangan anak.

"Inikan langkah awal untuk membuka komunikasi berkelanjutan antara orangtua dan pihak sekolah," tegas Rosti Uli.

Rosti juga mengingatkan agar pihak sekolah mematuhi ketentuan larangan kegiatan perpeloncoan atau apa pun sebutan lain yang bersifat kekerasan kepada siswa baru. Menurutnya, tugas sekolah untuk memastikan kegiatan perpeloncoan negatif tersebut tidak terjadi, apalagi dilakukan oleh senior siswa di sekolah.

"Kegiatan perpeloncoan dalam beragam bentuk yang cenderung kasar, keras dan berujung pada tindakan intimidatif harus dipastikan tidak terjadi di dalam lingkungan sekolah. Perpeloncoan itu sudah banyak memakan korban, sehingga amat besar mudaratnya," tegas Rosti.

Ia menjelaskan, ada banyak bentuk kegiatan yang lebih positif dilakukan di awal masuk sekolah. Pengenalan kegiatan dan lingkungan sekolah tidak harus dilakukan dengan pendekatan kekerasan.

"Untuk saling mengenal itu tidak harus dengan kekerasan, apalagi mengandalkan senioritas. Banyak hal positif lain yang bisa dilakukan. Ini tugas sekolah untuk melakukan pengawasan dan larangan perpeloncoan," pungkas Rosti Uli. (*)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved