Kurniawan Dwi Yulianto Merasa Tidak Ada Apa-apa Dibanding Atlit Paralympic
Kurniawan Dwi Yulianto semulanya tak begitu mengetahui istilah paralympic. Ia tahu kemudian, sewaktu berada di Malaysia.
Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Fitrah Akbar
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kurniawan Dwi Yulianto semulanya tak begitu mengetahui istilah paralympic. Ia tahu kemudian, sewaktu berada di Malaysia. Saat itu ia bermain membela sebuah klub di negeri jiran itu.
Disana bertemu dengan sekelompok atlit paralympic pada suatu acara. Pemain kelahiran Magelang 13 Juli 1976 itu justru merasa malu ketika mendengar prestasi dan semangat-semangat paralimpian itu.
"Dibanding dengan saudara-saudara, saya tidak ada apa-apanyalah. Dengan kondisi seperti ini (sehat), saya malah masih sering mengeluh," ucapnya.
Dari atlit paralympic, Kurniawan mengaku banyak belajar mengenai motivasi kehidupan.
"Banyak belajar. Terlebih dari sisi perjuangan, mereka dikasi cobaan seberat itu" ujar pemain jebolan Primavera Sampdoria Italia tahun 1993 itu.
Kurniawan Dwi Yulianto dan Bima Sakti menyambangi kantor Tribun, Rabu (17/8/2016) pagi. Kedatangan mereka itu untuk berbagu kisah dengan atlit paralimpic tennis meja Riau yang akan membela Riau pada Peparnas XV 2016 mendatang.
Sore tadi, ditambah Bambang Pamungkas, ketiganya menjadi motivator bagi para anak-anak Pekanbaru. Selain itu, pada kegiatan itu juga ada coaching clinic.(*)
Baca Selengkapnya di Harian Tribun Pekanbaru edisi BESOK. Simak lanjutannya di www.tribunpekanbaru.com. Ikuti Video Berita di www.tribunpekanbaru.com/video
FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru dan LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/kurniawan-dan-bima-sakti-di-tribun-pekanbaru_20160817_172312.jpg)