Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Kabut Asap Riau

Siswa Terancam Libur Lagi

"Sekolah dan belajar itu penting, namun kesehatan itu yang lebih penting dan diutamakan," ujarnya.

Editor: harismanto
TribunPekanbaru/DodiVladimir
Murid kelas V SD Negeri 15 Pekanbaru mulai menggunakan masker pada saat jam pelajaran di kelas, Senin (29/8/2016). Akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru pada pagi hari membuat para guru menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan masker. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan semakin pekat menyelimuti Riau, Senin (29/8), terutama di pagi hari. Kesehatan warga terancam seiring dengan memburuknya kualitas udara. Aktifitas belajar para siswa juga terancam diliburkan jika kualitas udara makin memburuk.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau Kamsol mengatakan, aktifitas sekolah khususnya pendidikan usia dini, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, diizinkan untuk diliburkan pada saat kondisi polusi asap kebakaran lahan dan hutan sudah membahayakan kesehatan. "Sekolah dan belajar itu penting, namun kesehatan itu yang lebih penting dan diutamakan," ujarnya.

Dia meminta agar dinas pendidikan di kabupaten dan kota untuk selalu berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan badan lingkungan hidup setempat. Sehingga selalu mendapat informasi terkini mengenai kualitas udara.

Menurut Kamsol, keputusan meliburkan sekolah merupakan kewenangan mutlak dari bupati dan wali kota. "Apabila kondisi memang sangat-sangat tidak sehat, kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota bisa minta petunjuk dan arahan dari pimpinan daerah setempat, bupati atau wali kota, mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan," paparnya.

Sejumlah sekolah bahkan telah mengambil keputusan untuk memulangkan siswanya, Senin. Seperti PAUD Nur Ramadhani di Duri, Kecamatan Mandau, Bengkalis, yang meminta para orangtua untuk kembali menjemputnya anak mereka ke sekolah. Pihak sekolah khawatir karena pencemaran udara di wilayah itu sudah masuk level berbahaya, yakni di angka 477 pada indeks standar polusi udara (ISPU).

Murid-murid pendidikan usia dini tersebut akan diliburkan hingga hari ini, Selasa. Mereka akan ke sekolah lagi besok jika kualitas udara membaik.

Murid-murid di SD Al-Azhar Syifa Budi di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru, secara khusus disediakan masker. Kepala Sekolah SD Al-Azhar Syifa Budi Haris Dianwari mengatakan, kebijakan menggunakan masker dikeluarkan setelah melihat semakin tebalnya kabut asap di Pekanbaru.

"Tadi pagi agak tebal (kabut asap). Jadi pihak sekolah mengambil kebijakan anak-anak menggunakan masker. Selama beraktifitas anak-anak juga harus menggunakan masker," terangnya.Orangtua murid juga diimbau mengenakan masker bagi anak-anaknya saat akan berangkat ke sekolah.

Dia berharap kabut asap bisa segera teratasi ."Meliburkan anak-anak bukanlah solusi. Selama kabut asap tidak begitu parah, anak-anak tetap diupayakan belajar meski waktunya lebih dipendekkan. Tentu harapan kami kabut asap ini bisa secepatnya ditanggulangi," ucapnya.

Tahun lalu, 2015, ketika berlangsung bencana kabut asap yang dahsyat, para siswa dari tingkat pendidikan usia dini hingga SMA diliburkan lebih dari sebulan lamanya. Ketika kualitas udara di level berbahaya dikotori kabut asap, yang berlangsung sekitar tiga bulan.

Kabut asap tebal memangkas jarak pandang di beberapa daerah, Senin pagi. Seperti di Kota Pekanbaru, jarak pandang sempat hanya 800 meter pada pukul 07.00 WIB. Sementara di Kota Dumai, turunnya jarak pandang karena diselimuti asap telah melumpuhkan aktivitas Bandara Pinang Kampar. Jarak pandang tidak sampai satu kilometer.

Sebanyak 41 penumpang pesawat Trans Nusa rute Dumai-Jakarta batal berangkat. "Aktifitas bandara kembali terganggu, sebab kabut asap masih pekat. Satu penerbangan terpaksa dibatalkan," ujar Kepala UPT Bandara Pinang Kampai Catur Hargowo. Sebagian penumpang memilih untuk berangkat melalui Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru.

Menurut Catur, ada juga penerbangan yang kembali dialihkan. Pesawat Trans Nusa dari Jakarta menuju Dumai, terpaksa dialihkan ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Pesawat jenis ATR 72 itu sempat berputar-putar di langit Dumai selama setengah jam. Pilot tak mau mengambil risiko mendarat di tengah tebalnya kabut asap yang menutupi landasan, sehingga akhirnya memutuskan mengalihkan pendaratan ke Pekanbaru.

Menurut Catur, pesawat itu mengangkut 50 penumpang dari Jakarta. Setelah mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru, mereka menempuh perjalanan darat ke Dumai.

Selain berasal dari sejumlah titik kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya, kabut asap pekat di Dumai diduga kiriman dari daerah sekitarnya. Seperti Pujud (Rokan Hilir) dan Pulau Rupat (Bengkalis). "Asap dari daerah lain mengepung Dumai karena faktor angin. Tapi alhamdulillah siang sudah turun hujan," ujar Komandan Kodim 0320/Dumai Letkol (Kav) Rendra Siagian. (TRIBUN PEKANBARU CETAK)

Berapakah jumlah titik panas di Riau saat ini? Baca Selengkapnya di Harian Tribun Pekanbaru edisi HARI INI. Simak lanjutannya di www.tribunpekanbaru.com. Ikuti Video Berita di www.tribunpekanbaru.com/video

FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru dan LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved