Minggu, 26 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Inikah yang Terjadi di Tiongkok dengan Transfer Gila-gilaan

Bahkan pekan lalu, Carlos Tevez dilaporkan sepakat dengan kontrak 84 juta euro atau sekitar Rp 1,2 triliun.

Editor: Sesri
SOUTH CHINA MORNING POST
Pengusaha di Tiongkok mengemas penjualan hak siar Liga Super Tiongkok atau Chinese Super League seperti di Liga Inggris. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BEIJING -- Mampukah gaji super tinggi dan biaya transfer yang memecahkan rekor untuk para bintang sepak bola seperti Carlos Tevez dan Hulk membuat Liga Super Tiongkok (Chinese Super League (CSL) sekompetitif Liga Inggris, Bundesliga, atau La Liga?

Tahun 2016 merupakan tahun luar biasa bagi sepak bola Tiongkok. Sebuah rekor transfer tercipta ketika gelandang asal Brasil Alex Teixeria bergabung ke klub CSL, Jiangsu Suning, dengan nilai 50 juta euro atau sekitar Rp 702 miliar.

Rekor itu diikuti rekor baru ketika kompatriotnya, Hulk, meneken kontrak bergabung ke klub papan atas Shanghai, Shanghai International Port Group (SIPG), dengan nilai 55,8 juta euro.

Bahkan pekan lalu, Carlos Tevez dilaporkan sepakat dengan kontrak 84 juta euro atau sekitar Rp 1,2 triliun.

Nilai itu melampaui seluruh transfer yang pernah ada di Tiongkok.

Sebagai akibat dari transfer itu adalah, Tevez menjadi pesepak bola dengan bayaran tertinggi di dunia.

Nama besar Tevez sebagai eks striker Manchester United, Manchester City, Juventus, dan Boca Juniors masih sangat menjual di Tiongkok.

Menurut media Tiongkok, kontrak dua tahun pemain Argentina itu dengan Shanghai Shenhua membuatnya menjadi pemain yang mendapatkan 38 juta euro (Rp 533 miliar) per musim.

Rupanya, daftar transfer dahsyat Tiongkok belum berhenti di situ.

Bintang asal Brasil Oscar bergabung dengan SIPG dari Chelsea dengan transfer 60 juta euro.

Beberapa bintang lain juga sudah tiba di Tiongkok, termasuk striker Italia Graziano Pelle, Ezequiel Lavezzi dari Argentina, dan striker Kolombia Jackson Martinez.

Oscar mendapat sambutan kedatangan bagai pahlawan ketika dia mendarat di Shanghai pada 2 Januari 2016. Oscar tiba di Tiongkok hanya enam bulan setelah Hulk.

Bisnis Gila-gilaan

Tahun 2016, klub-klub CSL telah menghabiskan sekitar 470 juta euro (Rp 6,6 triliun) hanya untuk transfer pemain.

Jumlah itu lebih besar dari nilai transfer gabungan dua tahun sekaligus, 2014 dan 2015. Saat ini, 96 pemain dari 32 negara bermain di CSL.

Pasar untuk sepak bola dan para pecinta olahraga itu kini memang sedang meningkat di Tiongkok.

Dengan rata-rata kehadiran 24.000 penonton per laga, Tiongkok jauh di atas negara-negara Asia lainnya.
Hak siar CSL sendiri meraup sekitar 1,2 miliar euro tahun 2016.

Tak heran, banyak agen sepak bola kini memberi tahu para pemain, jika ingin mendapatkan banyak uang, mereka harus bermain di Tiongkok.

Namun, banyak pemain muda Eropa yang masih tak mau pindah ke Timur Jauh. Uang di Tiongkok memang besar, tapi kualitas sepak bolanya dipandang masih cukup rendah.

"Klub-klub CSL telah memikat banyak pemain dan pelatih asing, tapi mereka tak bertahan di sana lebih dari satu musim," ujar Wu Jingui, direktur olahraga di klub SIPG, sebagaimana dikutip SuperBall.id dari DW.com, Kamis (5/1/2017).

"Mereka meneken kontrak tiga tahun, tapi hanya bermain satu tahun," ungkap Wu Jingui.

"Mereka lalu menunggu bursa transfer baru, tapi tetap digaji oleh klub-klub Tiongkok itu."

Shen Lei, jurnalis olahraga di koran yang berbasis di Shanghai, Wenhui, berkata lebih blak-blakan.

"Satu-satunya tujuan para pemain asing bergabung ke CSL adalah mendulang uang," ujar Shen Lei.

"Ketika seorang pemain Amerika Latin yang berbakat pindah ke Eropa, dia tak hanya mencetak uang, tapi juga tumbuh sebagai atlet."

"Bila para pemain itu tak melihat ada masa depan di Eropa, mereka akan pergi ke Tiongkok," tambah Shen Lei.

Banyak Penonton

Di level internasional, tim sepak bola Tiongkok berperingkat 82 dalam peringkat dunia FIFA.

Posisi Tiongkok itu masih di bawah negara-negara kecil seperti Curacao, Uganda, dan Trinidad-Tobago.

Dalam kualifikasi Piala Dunia 2018, Tiongkok belum pernah menang. Dalam lima laga terakhirnya, Tiongkok selalu menjadi bulan-bulanan, sehingga berada di posisi buncit dari enam tim Grup A.

Para pakar mengatakan, sisi lain memiliki bintang-bintang internasional di CLS adalah negara tak berinvestasi dalam merawat talentanya sendiri.

Di musim lalu, 70% gol di CLS dicetak para pemain asing. Hanya ada satu pemain Tiongkok yang masuk 10 besar.
Terdapat jutaan penggemar sepak bola di Tiongkok.

Namun, mereka lebih suka menonton pertandingan di TV ketimbang di stadion sepak bola. Terungkap pula tidak ada sistem pelatihan yang layak untuk anak-anak.

"Ada kemungkinan Tiongkok bisa memproduksi seorang pemain seperti Messi, tapi sangat banyak pengemar yang tak pernah menendang bola dalam hidup mereka," tutur Shen Lei.

"Sejauh ini, Tiongkok hanya menghasilkan para penonton sepak bola dan komentator," tutup Shen Lei. (*)

Sumber: SuperBall.id
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved