Tidak Beroperasi Sejak Agustus Lalu, Dinsos Anggarkan Rp 400 Juta Untuk Operasional Shelter

Dinas Sosial Kota Pekanbaru menggarkan dana operasional shelter senilai Rp 400 juta di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2017

Tidak Beroperasi Sejak Agustus Lalu, Dinsos Anggarkan Rp 400 Juta Untuk Operasional Shelter
Photobucket
Ilustrasi gepeng 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Syaiful Misgiono

TRIBUNPEKANBARU.COM - Dinas Sosial Kota Pekanbaru menggarkan dana operasional shelter senilai Rp 400 juta di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2017. Anggaran tersebut nantinya akan dipergunakan untuk operasional tempat penampungan gepeng dan anak punk di Pekanbaru. Sebab sejak Agutus 2016 lalu, shelter yang berada di Simpang Tiga Pekanbaru tersebut sudah tidak beroperasi lagi karena tidak ada anggaran operasional.

"Tahun ini sudah kita anggarkan Rp 400 juta. Tapi belum cair, doakan saja, mudah-mudahan bisa segera dicairkan,"kata Kepala Dinas Sosial, Khairani, akhir pekan lalu.

Dana tersebut, kata Khairani, akan dipergunakan untuk operasional shelter selama satu tahun. Mulai untuk pembiayan rutin, hingga pembayaran untuk petugas yang menjaga shelter tersebut.

"Sebenarnya dengan dana segitu tidak cukup, tapi mau gimana lagi, anggaran di dinas kita kan memang rendah," paparnya.

Menjamurnya Gepeng yang berkeliaran di Kota Bertuah ini semakin diperparah dengan lemahnya pengawasan dan penindakan dari pemerintah kota Pekanbaru. Mirisnya lagi, para Gepeng yang berhasil diamankan saat terjaring razia, kembali turun ke jalan. Apalagi saat ini tempat penampungan dan pembinaan para Gepeng dan anak jalanan serta anak punk tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Tempat penampungan atau biasa dikenal dengan sebutan shelter yang berada di simpang tiga Pekanbaru ini sudah tutup.

Khairani, membenarkan jika shelter yang biasa dijadikan tempat penampungan para gepeng dan anak jalanan tersebut sudah tutup. Alasan penutupan tempat penampungan tersebut lagi-lagi akibat tidak ada dana.

"Benar. Sudah tutup. Kerana anggaran tidak ada, dari bulan Agutus 2016 lalu Shelter kita sudah tidak beroperasi lagi," katanya.

Sejak shelter milik Dinas Sosial tersebut tutup, maka pembinaan terhadap gepeng dan anak jalanan pun tidak tidak ada lagi. Jika ada pelimpahan tangkapan anak jalanan atau gepeng dari Satpol PP Pekanbaru, Dinas Sosial hanya sebatas memberikan pengarahan dan memberikan surat teguran. Setelah itu para gepeng dan anak jalanan ini di kembalikan ke keluarganya. Jadi tidak heran, jika gepeng dan anak jalanan termasuk anak punk semakin menjamur di Pekanbaru.

Pasca di tutup Agustus lalu, empat dari tujuh petugas penjaga Shelter Dinas Sosial Kota Pekanbaru terpaksa dirumahkan. Sementara tiga orang lagi di tarik ke kantor Dinas Sosial sebagai Tenaga Harian Lepas (THL). Sebelumnya tujuh petugas tersebut menjadi pengelola di tempat penampungan para gepeng dan anak jalanan.

"Karena kekurangan anggaran, yang tiga orang terpaksa kita istirahatkan, satu lagi mengundurkan diri sebelum shelter kita tutup. Sementara tiga orang lagi kita tarik ke kantor," kata Kepala Dinas Sosial Kota Pekanbaru, Khairani, Senin (5/12/2016) lalu.

Keberadaan shelter yang dikelola oleh Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Pekanbaru merupakan komitmen pemerintah daerah menyelamatkan dan anak-anak jalanan serta korban kekerasan. Tidak hanya itu, Shelter juga menjadi tempat pembinaan sebelum anak-anak dikembalikan pada orang tua. Ada beberapa program di shelter ini yakni, pembinaan rohani, jasmani. Penghuni Shelter juga diajak untuk berinteraksi dan dibentuk pola perilakukan menjadi lebih baik.

Penulis: Syaiful Misgio
Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved