VIDEO: Bak Terserang Vertigo, Begini Kesaksian Pengguna Tembakau Gorila
setelah menghisap rokok dari tembakau gorila sangat tidak nyaman. Kepalanya menjadi pusing tak karuan seperti
TRIBUNPEKANBARU.COM - Seorang pria inisial AB usia 24 tahun sudah buktikan mengonsumsi tembakau gorila atau kingkong. Warga Kalipancur, Kota Semarang itu justru kapok dan mengaku tidak ingin mengulangi lagi.
setelah menghisap rokok dari tembakau gorila sangat tidak nyaman. Kepalanya menjadi pusing tak karuan seperti terserang penyakit vertigo.
"Pusing banget, mungkin itu kenapa disebut tembakau gorila karena badan rasanya montang-manting kayak dibanting kanan dan ke kiri.Padahal saya mengonsumsinya belum habis sebatang, tapi sudah langsung terasa efeknya," kata pria itu.
Untuk mendapatkan tembakau gorila, AB iuran bersama 17 rekannya. Barang tersebut diperoleh dari temannya yang berdomisili di Bali.
Mungkin sebutan gorila karena efeknya kayak dihajar gorila. Dampaknya kepala pusing terasa hampir dua jam lebih.
Demikian pengakuannya dalam wawancara khusus dengan Tribunjateng.com. Ia tidak mengetahui harga tembakau gorila secara pasti.
Namun dari hasil patungan tersebut, terkumpul uang sekitar Rp 400 ribu selanjutnya setelah dibelikan didapatkan barang sebanyak kepalan tangan orang dewasa.
AS masuk di rehabilitasi Rumah Damai sejak Juni 2016 akibat ketergantungan sabu-sabu. Ia menjadi pecandu sejak 1996 dan sempat berhenti total selama enam tahun, tepatnya 2005-2011 semenjak tinggal di Salatiga.
Kemudian, ketika 2011 balik ke Jakarta ia kembali mengkonsumsi narkoba hingga 2016. Akibat menjadi pecandu narkoba kehidupan pribadinya hancur. Istri serta seorang anaknya pergi meninggalkannya.
Tembakau Gorilla mempunyai sejarah panjang. Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) BNNP Jateng, Susanto menyebut tembakau gorilla sebenarnya hanya tembakau biasa.
Tapi tembakau itu disemprot zat kimia bernama Synthetic Cannabinoid yang efeknya sama seperti ganja.
Synthetic Cannabinoid merupakan zat sintetis (zat hasil sintesa di laboratorium) yang efeknya memungkinkan pengikatan resepto4 cannabinoid (CB1 atau CB2) dalam sel manusia.
Reseptor CB1 terletak di otak dan sumsum tulang belakang dan bertanggungjawab atas efek psikoaktif seperti ganja. Reseptor CB2 terletak di limpa dan sel sistem kekebalan tubuh, serta bisa memediasi efek kekebalan. (tribunjateng/hermawan handaka)