Kasus Doping, KONI Riau Berharap Safrin Terlepas Dari Sanksi

Jadi tambah Emrizal, dirinya berharap agar Safri terlepas dari sanksi, karena positif dopingnya tidak ada unsur

TribunPekanbaru/Syahrul Ramadhan
Suasana pertandingan menembak personil Brimob Polda Riau di lapangan tembak Perbakin Riau di Muara Fajar, Rumbai Pekanbaru. 

Laporan : Rino Syahril

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau Emrizal Pakis mengaku belum tahu apa hasil sidang keputusan atlet menembak Riau Safrin Sihombing.

"Jadi kita masih menunggu putusan, karena kasus doping Safrin di nomor Pistol 25 meter sudah masuk persidangan," ujar Emrizal Pakis kepada Tribun, Jumat (17/2).

Sedangkan terkait sampel b positif atau tidaknya kata Emrizal, itu sepenuhnya diserahkan kepada tim doping untuk memutuskannya. "Tapi kita berharap agar Safrin mengungkapkan segalanya, kalau makan obat dan ternyata mengandung doping sampaikan saja dalam persidangan. Sebab itu ketidaksengajaan,"ucap Emrizal.

Jadi tambah Emrizal, dirinya berharap agar Safri terlepas dari sanksi, karena positif dopingnya tidak ada unsur kesengajaan. Apalagi KONI sudah jauh hari menyampaikan kepada seluruh atlet Riau agar tidak memakai doping. "Kalau seandainya ada sanksi itu kita tegaskan hanya pada nomor Pistol 25 meter saja," ungkap Emrizal.

Tapi Jika gugur pun kata Emrizal lagi, perolehan medali emas Riau di PON 2016 Jawa Barat tidak berkurang. "Pasalnya peraih medali peraknya juga atlet Riau," papar Emrizal.

Saat ditanya apakah KONI Riau menerima keputusan dari pengadilan nanti untuk Safrin? "Kita terima atau tidak terima itu tergantung nanti hasil keputusannya. Kemudian kita juga akan serahkan sepenuhnya kepada Safrin," ujar Emrizal.

Seperti diketahui dalam pemberitaan, atlet menembak Riau Safrin Sihombing, Selasa (14/2) lalu jalani sidang Dewan Disiplin Antidoping di PP Itkon Senayan. Dan sidang itu diketuai oleh Cahyo Adi.

Dalam sidang itu Safri mengaku mengonsumsi propranolol, zat doping yang diklasifikasikan sebagai beta-blocker. Namun, ia menjelaskan tak mengetahui bahwa obat sinusitis pemberian sang istri, Ramona, mengandung zat doping.

Sadar akan kelalaiannya, Safrin tidak berniat mengajukan banding. Ia siap menjalani proses persidangan. Namun atlet 44 tahun ini berharap tidak mendapat hukuman berat. Pasalnya kasus doping PON ini telah membuatnya terganjar sanksi sosial, seperti dikeluarkan dari kesatuannya. (*)

Penulis: Rino Syahril
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved