Breaking News:

Siak

4 Perusahaan Tanpa Izin Beroperasi di KITB, Ini Kata Camat Sungai Apit

Ternyata ia mengaku belum pernah mengeluarkan sepucuk surat apapun untuk menegur atau menghimbau perusahaan yang bandel itu.

Penulis: Mayonal Putra | Editor: M Iqbal
http://ppi.kemenperin.go.id/
ilustrasi 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Camat Sungai Apit Supari mengaku tidak mengenal pihak perusahaan pengekspor cangkang sawit tanpa yang beroperasi di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) Sungai Apit, Siak.

Padahal, 4 perusahaan tanpa izin itu sudah beroperasi sejak 2016 lalu.

"Saya tidak kenal sama mereka, sama sekali tidak tahu," katanya kepada Tribun, Kamis (6/4/2017).

Namun demikian, ia mengaku sudah pernah menghimbau dan menegur perusahaan tersebut.

"Ya saya sudah menegur, sudah menghimbau agar dihentikan," tambah dia.

Ditanya kapan dia memberikan teguran dan himbauan, Suparni juga terdengar bingung. Ternyata ia mengaku belum pernah mengeluarkan sepucuk surat apapun untuk menegur atau menghimbau perusahaan yang bandel itu.

"Belum ada suratnya, mungkin camat sebelum saya sudah pernah," katanya yang kemudian mengaku tidak pernah melihat arsip surat teguran camat yang lama terhadap perusahaan itu.

Data yang dihimpun Tribun, perusahaan yang masih mengantongi izin prinsip PT Biomasa Fuel Indonesia (BFI). Sementara yang belum memgantongi izin satupun adalah PT Shabe Energy Indonesia, PT Sumatra Biomase Indonesia dan PT Kasindo.

Kepala dinas Penanaman Modal, Pelayanan Perizinan Satu Pintu (PMPPSP) Heriyanto mengatakan, pihaknya sudah menjajaki aktifitas perusahaan itu. Namun, pihaknya tidak bisa menemui pihak perusahaan yang kompeten di lapangan.

"Benar, mereka sudah beraktifitas tapi izin belum ada. Ada 5 perusahaan di sana, 1 yang sudah ada izin, 1 lagi masih izin prinsip, sedangkan lainnya belum. Kita hanya bisa menemui pekerjanya saja, perusahaannya entah dimana," kata Heriyanto.

Ia menjelaskan, dari 5 perusahaan pengeskpsor cangkang sawit di KITB, yang sudah mengantongi izin hanyalah PT Jatim.

"Kami sudah capek bolak-balik turun ke lapangan, tapi mereka tak bisa ditemui. Harusnya Camat setempat bisa memanggil mereka, karena dia yang punya kawasan," kata dia.

Heriyanto juga mengungkapkan, camat setempat tidak memberikan laporan apa-apa. Padahal yang mempunyai kawasan adalah camat Sungai Apit.

"Coba tanya sama camatnya, apa yang dia lakukan. Harus dia kan melakukan sesuatu, dia kok punya wilayah," kata dia.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved