EKSKLUSIF

Pengamat Ekonomi Edyanus Herman: Picu Ekonomi Biaya Tinggi

Tidak usah jauh-jauh, beberapa hari lalu saya ke Sumatera Barat, ternyata selisih harga Pertalite di Riau dan Sumbar cukup besar. Lebih mahal di kita

Dok.Tribun Pekanbaru
Pengamat Ekonomi Riau, Edyanus Herman 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pengamat Ekonomi Riau, Edyanus Herman, mengatakan, sebelum penetapan Perda, seharusnya pihak eksekutif dan legislatif mengkaji dan menganalisa dulu berapa beban pajak yang akan dibayar oleh masyarakat per liternya setiap mengisi bahan bakar minyak.

Kajiannya harus prioritas daerah, supaya pajak yang ditetapkan tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Karena ketika harga yang ditetapkan cukup tinggi, ini akan menjadi masalah.

Menjadi keluhan bagi masyarakat yang pada umumnya menggunakan bahan bakar minyak setiap hari.

Dengan kondisi yang ada saat ini, di satu sisi pemerintah memang mendapatkan pajak yang lebih besar, dan otomatis pendapatan pun lebih banyak.

Tapi di sisi lain, hal ini justru membuat biaya ekonomi semakin tinggi yang dirasakan oleh masyarakat.

Saya sepakat, memang sudah sepantasnya dilakukan revisi Perda No 4/2015, karena pajak yang dikenakan terhadap masyarakat cukup tinggi.

Tidak usah jauh-jauh, beberapa hari lalu saya ke Sumatera Barat, ternyata selisih harga Pertalite di Riau dan Sumbar cukup besar. Lebih mahal di kita Rp 400 per liter.

Itu baru untuk per satu liter. Berapa liter kebutuhan per kendaraan dalam satu hari dan berapa kendaraan yang mengisi BBM setiap waktu, dikalikan setahun. Itulah yang membuat cost (biaya) semakin tinggi.

Hal ini tentunya harus menjadi pembelajaran bagi kita ke depan dalam menetapkan besaran pajak untuk sebuah barang, dan yang menjadi landasan prioritas haruslah masyarakat.

Bagaimana sebuah aturan tersebut berpihak dan mengutamakan kepantingan masyarakat.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved