Kepala Sekolah Ini Menitikan Air Mata Saat Pertama Bertugas di SDN 07 Sei Berbari
Ia juga tidak menyangka kondisi sekolah jauh lebih parah dari perkiraan. Sebab, dilihat dari luar tidak terlalu terlihat kerusakannya.
Penulis: Mayonal Putra | Editor: harismanto
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Hepnita, S.Pd sebelumnya bertugas sebagai kepala sekolah di TK Negeri Benayah, Sungai Apit, kabupaten Siak. TK itu termasuk TK yang baik di Sungai apit.
Pada April 2017, ia dipindahkan menjadi kepala SDN 07 Sungai Berbari, Pusako. Dari rumahnya di Benayah, menuju Sungai Berbari, ia mengendarai sepeda motor lebih kurang 45 menit.
Awalnya ia sempat khawatir saat mengikuti jalan perusahaan. Namun lama kelamaan menjadi terbiasa.
Ia juga tidak menyangka kondisi sekolah jauh lebih parah dari perkiraan. Sebab, dilihat dari luar tidak terlalu terlihat kerusakannya.
"Begitu saya masuk untuk pertama kalinya, saya menitikan air mata. Saya tidak membayangkan anak-anak belajar dengan keadaan yang cukup menyentuh perasaan. Saya tidak tega melihat mereka belajar dalam ruangan itu", kata dia, Jumat (8/9/2017).
Baca: Murid SDN 07 Sungai Berbari Siak Ini Terpaksa Belajar di Ruangan Kelas yang Rusak
Selama dia bertugas di SD yang malang itu, belum ada kejadian kecelakaan di jalan perusahaan ataupun loteng jatuh menimpa murid. Tetapi hal itu yang selau menjadi kekhawatirannya.
"Kami bergotong rotong bersama, mencari kursi yang sudah goyang, lalu memakunya. Kami bersama majlis guru harus kompak, bagaimana membuat sekolah yang kita cintai ini bisa maju, seperti sekolah di tempat lain," urai Hepnita.
Ia kadang melihat pejaga sekolah membawa air dengan ember untuk menyiram lantai di pagi hari atau petang hari. Kadang penjaga sekolah juga sangat teliti melihat keadaan.
"Jika ada kursi yang sangat parah, dia memakunya sendiri," kata dia.
Hepnita juga bersyukur mendapat tugas di sekolah itu. Ia mendapatkan majlis guru dan komite yang penuh kekeluargaan.
Baca: Masih Ingat Polisi yang Suapi Nenek Terlantar? Ia Diganjar Umrah Gratis dan Kini Dapat Keluarga Baru
"Jadi kami hanya punya satu keinginan saat ini, yakni mendapatkan bantuan baik dari Pemda atau pusat untuk merehab rekon ruangan kelas. Karena kami tidak tega melihat anak belajar dalam kondisi yang gawat darurat", kata mantan pengajar di SD 08 Sungai Berbari itu.
Ia menuturkan, dari banyak sekolah yang sudah ditempuhnya, hanyalah SDN 07 itu yang sangat memprihatinkan. Sedangkan yang lainnya tidak ada separah sekolah itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/sdn-07-sungai-berbari-siak_20170910_234136.jpg)