Pahlawan Nasional dari Riau, Mahmoed Marzuki Pengibar Merah Putih Pertama di Bangkinang

Mahmoed wafat karena sakit-sakitan setelah disiksa oleh tentara Belanda. Pria kelahiran Bangkinang tahun 1911 itu mendapat siksaan begitu mengerikan.

Pahlawan Nasional dari Riau, Mahmoed Marzuki Pengibar Merah Putih Pertama di Bangkinang
net/google
Mahmoed Marzuki 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Pemerintah Republik Indonesia telah memutuskan untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mahmoed Marzuki, tokoh pejuang asal Kampar, Riau. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Riau dan terlebih lagi bagi keluarganya.

Dwi Iriani Devi (cucu, 38 tahun) dan Silvia Dewi (cicit, 38 tahun) hampir tidak percaya apa yang selama ini diperjuangkan berbuah hasil. Berbagai upaya telah ditempuh agar Mahmoed jadi Pahlawan Nasional. Namun selalu kandas.

"Mulai dari zaman Pak Soeharto dulu. Anaknya sendiri yang menyampaikan, nggak pernah berhasil," ungkap Silvia, yang ditemui bersama ibunya, Dwi Iriani, di Bangkinang, Kamis (26/10) malam.

Dwi Iriani adalah cucu dari anak pertama Mahmoed, Nazar Mahmoed.

Bagi keluarga, kehadiran Mahmoed Marzuki masih dirasakan. Dwi Iriani mengaku pernah didatangi sang kakek dalam mimpi.

"Kepala saya dielus-elus. Dibilang, sabar, kamu akan mendapat bagian cucuku. Saya nggak ngerti apa artinya," tutur Dwi Iriani.

Silvia menimpali, Mahmoed Marzuki menjadi teladan bagi mereka. Keluarga sampai kini memegang motto hidup Mahmoed yang tertulis dalam Al-Quran, Surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ia mengakui sekarang banyak orang tidak tahu siapa Mahmoed Marzuki yang ikut mengusir penjajah dari tanah Kampar. Ini membuktikan, kata dia, pengetahuan sejarah bangsa sudah mulai luntur terutama di kalangan generasi muda.

"Semoga dengan ini, kita menjadi lebih menghargai sejarah dan menghormati jasa pahlawan kita," ujar Silvia, yang sehari-hari mengajar di SD Muhammadiyah Bangkinang.

Mahmoed Marzuki wafat tahun 1946. Ia dimakamkan di Desa Kumantan, Kecamatan Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar. Tepatnya di depan Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah. Makam inilah sisa bukti sejarah betapa perihnya perjuangan melawan penjajah Belanda.

Halaman
123
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved