Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Diperinnaker Kampar Merasa Dilecehkan TKA Predir PT. SA

Kepala Disperinnaker Kampar, Heri Afrizon mengungkapkan, Thomas tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang jelas.

Penulis: Fernando Sihombing | Editor:
Desain Tribun Pekanbaru
ilustrasi tribun 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Fenrando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Thomas Thomas mangkir dari panggilan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kampar. Dalam surat pemanggilan, mestinya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang menjabat Presiden Direktur PT. Sekarbumi Alamlestari (SA) ini datang pada Rabu (8/11/2017).

Kepala Disperinnaker Kampar, Heri Afrizon mengungkapkan, Thomas tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang jelas. Konfirmasi berhalangan hadir diterima Disperinnaker hanya melalui stafnya. "Kita sudah dilecehkan ini," kesalnya, Kamis (9/11/2017).

Heri mengatakan, pihaknya akan mengirim surat pemanggilan kedua. Namun ia belum memastikan kapan waktunya. Ia berancang-ancang mengambil langkah tegas jika TKA asal Malaysia itu tetap tidak mengindahkan panggilan Disperinnaker.

Menurut Heri, pemanggilan itu memang bukan untuk kepentingan penyelidikan. Kata dia, Thomas dipanggil untuk dimintai klarifikasinya terkait pelanggaran yang dilakukan.

Kasus ini pertama sekali dilaporkan Kantor Imigrasi Pekanbaru. Thomas kedapatan mengambil kewenangan bidang personalia pada perusahaan Kelapa Sawit yang terletak di Desa Kota Garo Kecamatan Tapung Hilir tersebut. Ia meneken Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).

Diwartakan sebelumnya, Heri menyebutkan, kasus Thomas di Imigrasi sudah ditangani. Menurut dia, Thomas sudah mengakui kesalahannya. Kala itu, ia mengatakan, Thomas mungkin dikelabui bawahannya.

Lebih jauh, Heri mencium aroma permainan instansi tertentu dalam penanganan kasus Thomas. Ia menyesalkan, persoalan Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) tak kunjung ada kejelasan. Ini menyebabkan kasus Thomas berlarut-larut.

Ia enggan berkomentar lebih rinci soal indikasi permainan itu. "Nggak enak saya sebutkan," ujar Heri. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved