Kejati Gesa Penyidikan Dugaan Tipikor BRI Agro

Upaya ini dilakukan untuk melengkapi berkas perkara, sebelum penetapan tersangka dalam kasus yang terjadi pada tahun 2009-2010 itu.

Kejati Gesa Penyidikan Dugaan Tipikor BRI Agro
NET
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Ilham Yafiz

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru terus menggesa proses penyidikan kasus dugaan rekayasa kredit di BRIAgro Pekanbaru sebesar Rp 4 Miliar lebih.

Penyidik terus memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti terkait pidana tersebut. Penyidik juga terus berkoordinasi dengan auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Riau dan ahli dari akademisi.

Upaya ini dilakukan untuk melengkapi berkas perkara, sebelum penetapan tersangka dalam kasus yang terjadi pada tahun 2009-2010 itu.

"Koordinasi dengan auditor BPK intensif kita lakukan. Ini terkait proses penghitungan kerugian negara dalam perkara ini," ungkap Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Pekanbaru, Azwarman, kepada Tribun, Jumat (10/11/2017).

Selain itu, kata Warman, pihaknya juga berkoordinasi dengan ahli dari akademisi. Ahli ini diyakini yang menguasai ilmu tentang hukum pidana dan perbankan. "Keterangan ahli ini berguna untuk memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi yang disangkakan," lanjutnya.

Kasus ini terjadi pada tahun 2009-2010. Saat itu, BRIAgro (sebelumnya Bank Agro) Cabang Pekanbaru, memberikan kredit dalam bentuk modal kerja untuk pembiayaan dan pemeliharaan kebun kelapa sawit yang terletak di Desa Pauh Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu, kepada 18 debitur atas nama Sugito dan kawan-kawan, dengan total luas lahan kelapa sawit seluas 54 hektare sebagai agunan.

Adapun total kredit yang diberikan sebesar Rp4.050.000.000 terhadap 18 debitur tersebut, masing-masing jumlahnya bervariasi yaitu Rp150 juta dan Rp300 juta. Jangka waktu kredit selama 1 tahun, dan jatuh tempo Februari 2010, dan diperpanjang beberapa kali sampai dengan 6 Februari 2013.

Sejak tahun 2015, terhadap kredit tersebut dikategorikan sebagai kredit bermasalah (non performing loan) sebesar Rp3.827.000.000 belum termasuk bunga dan denda. Agunan berupa kebun kelapa sawit seluas 54 hektar alas hak berupa SKT/SKGR tidak dikuasai oleh BRIAgro dan tidak dapat ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik karena termasuk dalam areal pelepasan kawasan 3 perusahaan serta termasuk dalam kawasan kehutanan.

Penulis: Ilham Yafiz
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved