Benarkah Remaja yang Tewas Bersimbah Darah Ini Korban Perampokan? Ini Barang Buktinya
Menurut dokter jaga UGD, yang menangani Richard, dr Triase, kondisi korban sudah kejang-kejang saat tiba di RS Pirngadi.
TRIBUNPEKANBARU.COM, TANJUNGMORAWA - Penyebab kematian Richard Vanes Pakpahan (16) siswa SMA Roma Katolik (RK) Serdang Murni, Lubukpakam, Deliserdang, yang ditemukan tewas bersimbah darah masih misterius.
Richard disebut-sebut memergoki pria itu mencuri di rumah orangtuanya, Jalan Lintas Sumatera, Tanjungmorawa, Deliserdang, Selasa (14/11/2017).
Awalnya, Richard, yang mengalami luka di leher dibawa ke Rumah Sakit GL Tobing Tanjungmorawa.
Namun, pihak GL Tobing merujuk Richard ke Rumah Sakit Pirngadi Medan. Nyawa remaja tersebut pun tidak tertolong.
Ia meninggal dunia sekitar pukul 20.30 WIB akibat luka bacok pada bagian leher.
Menurut dokter jaga UGD, yang menangani Richard, dr Triase, kondisi korban sudah kejang-kejang saat tiba di RS Pirngadi.
Baca: Refles Histeris Sambil Peluk Ibu. Abangnya Tewas Bersimbah Darah Dibacok Perampok
Baca: Dikira Sampah Mengapung di Laut, Setelah Dipungut, Muntahan Ini Bernilai Ratusan Juta
Baca: Pulang Kerja Malam Tak Ada yang Buka Pintu, Wanita Ini Tewas Dibakar Setelah Dirudapaksa
Tim dokter langsung melakukan penanganan awal.
"Kondisi korban memang sudah sekarat. Kita lakukan pompa jantung manual, tapi nyawanya tak tertolong," ujar Triase.
Setelah dinyatakan meninggal, pihak keluarga membawa jenazah Richard pulang menggunakan ambulans RS GL Tobing.
Pembacokan terhadap Richard diperkirakan terjadi pukul 18.00 WIB.
"Kaus warna merah itu, punya pelaku Pak, begitu juga topi yang tertinggal di ruang tengah. Saya tadi di dapur saat pembacokan itu," ujar Ibu Richard, Boru Sitorus, saat ditanya dua penyidik berpakaian preman di rumah tetangganya.
Setelah itu, penyidik, yang mengenakan kemeja putih membawa Boru Sitorus ke rumahnya.
Ia bersama seorang warga diinterogasi tiga penyidik di ruang tamu. Beberapa penyidik lainnya berdiri di pelataran rumah.
Mereka berdiskusi sembari meletakkan berbagai barang, seperti tas milik korban di di atas meja. Sedangkan, pagar rumah dan pintu masuk sudah diberi garis polisi.
Sebelumnya, Boru Sitorus menceritakan, saat terjadi pembacokan, ia sedang memasak di dapur. Ia berlari ke ruang tamu, saat mendengar suara gaduh.
Kala itu, J Pakpahan, suami Boru Sitorus, tidak di rumah. Pakpahan masih mengajar di sekolah swasta di Batangkuis.
Namun, Boru Sitorus belum sempat menyebutkan identitas pembunuh anaknya, karena Refles Pakpahan, putra ketiganya meratap histeris.
Ia terlihat berupaya memenangkan anak ketiganya, yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Setelah itu, petugas kepolisian langsung memintanya untuk memberi keterangan terkait pembunuhan itu.
Apalagi, dari pemeriksaan sementara, enggak ada barang berharga atau uang yang hilang dari rumah tersebut.
Suara Cekcok
Tribun Medan, yang kebetulan melintas di Jalan Lintas Sumatera, tidak jauh dari pintu Tol Tanjungmorawa-Medan, mendengar suara gaduh.
Setelah membuka kaca mobil, terdengar para warga, yang berdiri di pinggir jalan, meneriakkan ada perampokan disertai pembunuhan di rumah warga.
Beberapa petugas kepolisian langsung masuk ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari bukti-bukti pelanggaran hukum.
Menurut warga, keluarga Richard belum lama tinggal di rumah tersebut.
"Mereka baru satu bulan tinggal di sini. Kami tidak begitu kenal, karena mereka orang baru di sini. Tapi, sempat tadi ada keributan. Terdengar suara teriak-teriak dari dalam rumah," ujar perempuan menggunakan kaus putih, yang menolak menyebut identitasnya.
"Jangan tulis nama aku. Nanti payah, soalnya aku juga tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana. Tapi, pelaku itu agak hitam (sawo matang). Kabarnya, lari enggak pakai baju dan naik becak," katanya melajutnya perbincaraan.
Ia mengungkapkan, Pakpahan merupakan guru di Yapim Batangkuis.
Perempuan tersebut menambahkan, Pakpahan dan Boru Sitorus punya tiga orang anak.
Saban hari, Boru Sitorus berjualan jajanan anak-anak dan mi di teras rumah mereka.
Ia menduga, pelaku pembunuhan masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Richard.
"Kurasa masih ada hubungan kekerabatan, karena kayak bertamu biasa. Sempat juga dibuatkan kopi. Jadi, kabarnya mau mencuri di kamar, namun kepergok sehingga dibacoknya Richard itu," ujarnya.
Baca: 7 Perawatan Terbaik Saat Flu Menyerang, No 7 Jangan Disepelekan
Baca: Gamer Ini Meninggal Setelah Main Game Online 9 Jam Tiap Malam, Ini yang Dimainkannya
Baca: Ngecas Smartphone Sambil Tidur, Gadis 14 Tahun Ditemukan Tewas, Begini Penampakan Kabelnya!
Identitas Sudah Dikantongi
Kapolsek Tanjungmorawa Ajun Komisaris Polisi (AKP) Fredly Parlindungan mengatakan, petugas kepolisian masih melakukan penyelidikan di rumah korban.
Tapi, penyidik sudah mengetahui identitas pembunuh dan sedang dikejar.
"Saya masih di TKP ini, baru saja meninggal dunia korbannya dan kami sudah mengantongi dan mencari pelaku pembunuhan. Belum bisa dipastikan perampokan, karena enggak ada barang yang hilang. Motifnya sedang diselidiki," ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa petugas kepolisian sedang melakukan pemeriksaan terhadap Boru Sitorus serta beberapa orang saksi. Tapi, ia menolak membeberkan keterangan lebih lanjut.
Namun, saat disebut berdasar informasi dari lapangan pakaian pelaku tertinggal di TKP, Fredly tak membantah. "Ada baju dan topi yang tertinggal," ujarnya. (tio/tribunmedan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pekanbaru/foto/bank/originals/orangtua-korban-boru-sitorus-menangis_20171115_103358.jpg)