Penuh Tantangan, Begini Kisah Dokter Hewan Wanita yang Rawat Bayi Gajah Harmoni Rimbo di TNTN 

Awalnya saya magang disini, lalu balik lagi ke Kupang. Tak berapa lama, saya ditelpon camp sini minta kembali

TribunPekanbaru/Theo Rizky
drh Annisa Wandha Sari 

Menurut Wandha banyak suka dukanya selama menjadi dokter hewan disana.

“Ngobatinnya susah-susah gampang karena dia hewannya aktif dan lebih besar dari kita, bebannya lebih berat. Jadi ada rasa takut ketika dia mau nendang atau mau melilitkan belalainya ke kita," katanya.

"Tapi senangnya dia itu lucu. Pas dipanggil, dia nyaut dan mau datang,” jelas dokter lulusan fakultas kedokteran hewan Universitas Nusa Cendana Kupang itu.

Diceritakannya lagi menangani atau mengobati hewan cukup menantang dari pada manusia. Karena hewan itu tidak bisa mengatakan sakitnya dimana dan apa keluahannya.

"Beda kan sama mengobati orang,” tambahnya.

Setiap hari Wandha terus memantau kesehatan Ria dan anaknya Har.

Seminggu pasca melahirkan ia aktif memberikan disinfektan pada tali pusar Har dan bagian saluran kelahiran Ria agar terbebas dari infeksi.

“Kini ada 4 ekor gajah dewasa, terdiri 2 jantan dan 2 betina. Lalu 2 ekor jantan remaja, 1 ekor balita betina bernama Rimbani, dan 1 ekor bayi gajah, yaitu Har,” ucap dara berdarah minang tersebut.

Penulis: Theo Rizky
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved