Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Advertorial

Alpa Makan Karena Gadget

Berilah kesempatan bergadget kepada mereka tanpa harus menafikan kebutuhan-kebutuhan prinsip lainnya.

Editor: harismanto
Gubernur Riau Ir H Arsyadjuliandi Rachman MBA: Pada anak usia 10-14 tahun menunjukkan perilaku makan sayur dan buah yang rendah yaitu 93,6 persen dan kurang aktivitas fisik yaitu 66,9 persen. Kondisi ini, dapat menyebabkan penyakit metabolik, seperti penyakit jantung. 

Hidup hari ini adalah untuk masa mendatang. Kebaikan-kebaikan yang kita gagas dan jalankan sekarang, tentunya akan menuai hasil positif juga di masa depan. Begitu pun sebaliknya. Bila keburukan yang dilakukan, hasilnya tentu buruk pula.

Termasuk dalam hal ini membina dan mendidik anak-anak kita. Bila diarahkan dan dikelola di jalur yang baik, tentunya dinamika perjalanan hidup mereka menghilir ke hasil yang membanggakan sekaligus membahagiakan.

Salah satu aspek yang acapkali kita abai adalah menerapkan perilaku dan pola hidup sehat. Padahal, faktor ini sangat penting dalam membentuk masa depan generasi penerus. Bila hidup mereka sehat, apa pun cita-cita yang diinginkan akan lebih mudah dicapai.

Berdasarkan hasil riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2016, ditemukan hasil mencengangkan terkait kondisi kesehatan anak-anak dan remaja. Terutama dalam asupan gizi dan aktivitas fisik.

Pada anak usia 10-14 tahun menunjukkan perilaku makan sayur dan buah yang rendah yaitu 93,6 persen dan kurang aktivitas fisik yaitu 66,9 persen. Kondisi ini, dapat menyebabkan penyakit metabolik, seperti penyakit jantung.

Penyebab utama dari kurangnya asupan gizi yang baik dan berimbang serta kurangnya aktivitas fisik pada anak-anak itu dikarenakan kekurangpedulian kita, sebagai orangtua dalam mengelola dan mengarahkan mereka.

Salah satu contoh yang paling sering ditemui adalah aktivitas penggunaan gadget. Banyak anak-anak sekarang yang dibiarkan begitu saja berinteraksi dengan gadget. Nyaris tanpa kontrol.

Padahal, penggunaan gadget dapat menimbulkan masalah seperti memengaruhi kesehatan mata anak, masalah tidur, kesulitan konsentrasi, menurunnya prestasi belajar, perkembangan fisik, perkembangan sosial, perkembangan otak, dan penundaan perkembangan bahasa anak.

Selain itu, gawai juga membuat mereka lupa diri untuk beristirahat dan makan. Dalam jangka panjang itu tentunya akan berdampak buruk.

Sangat banyak kita dengar, anak-anak yang menderita sakit parah. Mereka diserang penyakit jantung, hepatitis, tipus. Usut punya usut, penyebabnya adalah terlalu sibuk menggunakan gagdet. Perangkat yang membuat lupa diri. Alpa istirahat, minus asupan gizi berimbang, terbatas gerakan fisik bahkan lupa berinteraksi.

Dari fakta itu, bukan berarti, kita mengharamkan pula penggunaan alat ini. Silahkan saja gunakan gadget, namun dengan menerapkan batasan-batasan tertentu. Pakailah alat ini untuk tujuan-tujuan yang berguna. Untuk berinteraksi, menggali teknologi, serta kepentingan-kepentingan bermanfaat lainnya.

Nah, dalam konteks itu, anak-anak kita tentunya harus dikontrol. Mereka harus diarahkan dengan baik. Berilah kesempatan bergadget kepada mereka tanpa harus menafikan kebutuhan-kebutuhan prinsip lainnya. Di saat belajar, istirahat, makan, berkativitas fisik, gagdet harus “dibuang” jauh-jauh. Pun begitu dengan sarana teknologi informasi lainnya. (adv)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved