Senin, 20 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pihak Sekolah di Dumai Tampik Pungut Uang yang Beratkan Siswa

Pihak sekolah tingkat menengah atas di Dumai menampik adanya pungutan di luar Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP)

Penulis: Fernando | Editor:
TribunPekanbaru/Theo Rizky
Sejumlah murid SD tengah belajar pada hari pertama sekolah di tahun 2017 diruangan kelas SDN 29 Pekanbaru, Selasa (3/1/2017). Setelah libur semester, kini kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah di Kota Pekanbaru mulai aktif. 

Laporan Wartawan Tribundumai.com, Fernando Sikumbang

TRIBUNDUMAI.COM,DUMAIKOTA- Pihak sekolah tingkat menengah atas di Dumai menampik adanya pungutan di luar Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) bagi siswa di sekolahnya. Mereka mengaku hanya berlakukan pungutan yang wajar bagi para siswa. Mereka menampik adanya dugaan pungutan yang memberatkan siswa.

"Kami sama sekali tidak pernah berlakukan pungutan yang memberatkan siswa," jelas
Wakil Kepala SMK Taruna Persada, Afminorizal kepad Tribun, Jum'at (19/1/2018).

Menurutnya, pihak sekolah hanya memungut SPP sebesar Rp 240.000 setiap bulan bagi siswa seluruh jurusan di SMK Taruna Persada. Ada juga pungutan berupa uang Osis. Besarannya mencapai Rp 120.000 untuk satu tahun

Perwakilan SMKN 2 Dumai, Ade Wardana juga mengaku tidak ada pungutan selain SPP di sekolah pemerintah itu. Ia juga tidak pernah memaksa para siswa yang magang membayar SPP sekaligus. Para siswa yang magang tidak wajib membayar sekaligus SPP untuk tiga bulan.

Mereka bisa mencicil pembayaran setiap bulannya. "Jadi mereka tak harus bayar sekaligus. Mereka bjsa membayar sesuai kesanggupannya," ujar Ade kepada Tribun terpisah.

Menurutnya, para siswa bisa membayar uang SPP secara bertahap. Pihak sekolah menetapkan SPP setiap bulannya sebesar Rp 150.000. "Jadi kami tak pernah mempersulit siswa, mereka bisa bayar bertahap," terangnya.

Pihak sekolah juga memungut uang komite. Mereka menggunakan uang ini untuk mendukung proses belajar mengajar. Ia beralasan pungutan uang komite untuk mendukung praktek para siswa.

Mereka juga gunakan uang ini bagi guru yang dampingi siswa magang. Para guru mendapat bayaran karena membimbing siswa di luar proses pembelajaran. Ada juga guru yang ikut membimbing siswa di luar kota.

"Kalau pakai Dana Operasional Sekolah tidak cukup. Di SMK para siswa lebih banyak praktek dibanding di kelas," terang Ade. (fer)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved