Daya Ungkit Balai Latihan Kerja

Kepala Bappenas sempat memaparkan pendidikan vokasi Jerman terbukti telah berhasil mengurangi pengangguran

Daya Ungkit Balai Latihan Kerja
IST
Bernard M, Ketua Peduli Isu Bonus Demografi, Head Marketing Smart Plus Technology

Karena itu, intervensi dan keseriusan pemerintah harus mengejawantahkan anggaran yang lebih besar pada penelitian agar kerjasama pendidikan vokasi lebih bisa implementatif dan sesuai kebutuhan industri.

Salah satu solusi efektif dalam menjaring tenaga kerja agar lebih produktif dan bisa langsung di terapkan oleh pemerintah adalah dengan memamfaatkan jaringan Balai Latihan Kerja (BLK). Ada 301 BLK di seluruh Indonesia.

Program Re-orientasi BLK yang di canangkan oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) cukup di sikronkan dengan kebutuhan daerah agar tidak terjadi benturan program jurusan yang tidak banyak di minati atau berdampak signifikan dalam dunia kerja sekarang atau di masa depan, sehingga menciptakan tenaga terampil siap pakai dan dapat di terima dunia industri. Misal, dengan lebih memprioritaskan program keahlian pemograman yang nantinya akan mampu menciptakan aplikasi, laman, ataupun perangkat lunak komputer yang sekarang lagi di banyak di butuhkan dalam perusahaan rintisan atau perusahaan teknologi.

Untuk program Revitalisasi dan Re-Branding, BLK dapat membuka akses kolaborasi bersama kampus yang telah memiliki program kewirausahaan. Salah satu konsep program kewirausahaan tersebut adalah dengan gagasan inkubator.

Adaptasi konsep ini bisa bersinergi dengan program inkubasi yang telah berdiri di beberapa kampus di bawah pengawasan Kemenristekdikti. Dengan adaptasi berbasis Inkubasi di BLK, otomatis akan lebih banyak menyedot peminat dari kaum muda untuk mengikuti pelatihan karena identik dengan inovasi teknologi. Apalagi, program inkubasi bisnis di kampus memiliki kurikulum membangun mental kewirausahaan.

Ini sangat penting, karena menumbuhkan kepercayaan diri dan karakter optimis dalam bersaing. Inilah saatnya, pemerintah memutar jarum pandangan publik. Citra pelatihan BLK yang selama ini di sematkan oleh orang tua atau masyarakat umum seperti tidak produktif dan terkesan kelas kalangan bawah, lambat laun akan perlahan berubah, karena selain meluluskan tenaga terampil yang memiliki daya saing baik nasional maupun global, BLK juga mampu menciptakan calon-calon pengusaha muda.

Salah satu konsultan riset dunia Mckinsey memprediksi Indonesia mampu menjadi poros kekuatan ke- 7 ekonomi dunia pada tahun 2030 yang juga bertepatan dengan puncak bonus demografi Indonesia, di mana usia produktif layak kerja 15-64 tahun di Indonesia ada sekitar 180 juta jiwa.

Salah satu syarat Indonesia menjadi poros ekonomi dunia tersebut, harus memiliki tenaga terampil 113 juta jiwa. Saat ini, sayangnya hanya memiliki 57 juta tenaga terampil.

Data yang di paparkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan angkatan tenaga kerja di Indonesia yang banyak menyerap tenaga kerja masih di dominasi sektor pertanian sekitar 39,6 juta jiwa (31,8 %).

Dengan begitu, bukan tidak mungkin BLK dapat menjadi alternatif solusi memecahkan kebuntuan tenaga kerja produktif dan menjadi lokomotif kemajuan bangsa dengan menyiapkan tenaga terampil yang lebih besar sekaligus wirausaha mandiri.

Alhasil, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.(iry)

Penulis: Ikhwanul Rubby
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved