Breaking News:

Umat Islam Keturunan India di Kota Padang Lemparkan 7 Ton Gula dari Masjid Muhammadan

Tradisi Serak Gulo yang sudah menjadi salah satu identitas perpaduan keagamaan dan budaya dari masyarakat keturunan India

Editor:
Tribun Pekanbaru/ Riki Suardi
Tradisi Serak Gulo yang sudah menjadi salah satu identitas perpaduan keagamaan dan budaya dari masyarakat keturunan India 

Lasporan wartawan Tribun Pekanbaru, Riki Suardi

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Tradisi Serak Gulo yang sudah menjadi salah satu identitas perpaduan keagamaan dan budaya dari masyarakat keturunan India yang berada di Kota Padang, kembali digelar, Jumat (16/2/2018).

Pada acara yang digelar di Masjid Muhammadan, Jalan Batipuah, Padang Selatan, Kota Padang itu, ribuan masyarakat berdesak-desakkan untuk memperebutkan gula yang dilempar dari atas maajid.

Pada acara yang digelar sejak pukul 16.30 WIB hingga berakhir pada pukul 18.00 WIB itu, turut hadir Mahyeldi Ansharullah yang meupakan calon Walikota Padang incunbent.

Panitia Serak Gulo Iskandar mengatakan, tradisi ini hanya diadakan di tiga negara di dunia, yaitu Singapura, Indonesia dan India. Untuk Indonesia, tradisi yang sudah berlangsung sejak abad 17 itu diadakan di Masjid Muhammadan, Kota Padang.

"Tradisi Serak Gulo atau pelemparan Gula ini diadakan setiap tanggal 30 Jumadil Awal sampai 10 Jumadil Akhir itu. Ada ribuan masyarakat di Kota Padang yang mengikuti tradisi ini," kata Iskandar, Jumat sore.

Dijelaskannya, ada sekitar 7 ton gula yang dilempar ke masyarakat muslim di Kota Padang, dan proses tradisi Serak Gulo ini dilakukan sesudah salat Ashar dan selesai sebelum masuknya waktu salat Magrib.

"Upacara serak gulo dalam pelaksanaan dibagi dalam tiga bagian yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup. Yang sedang berlangsung ini adalah tahap pelaksanaan," ujarnya disela-sela upacara Serak Gulo.

Tahap persiapan, katanya, dimulai dari pembungkusan gulo yang telah dibawa dari rumah masing-masing oleh masyarakat muslim keturunan India. Kemudian dibungkus menggunakan kain perca yang berwarna warni.

"Untuk ukurannya, bervariasi mulai dari ukuran 100 gram sampai 500 gram. Setelah semua gula terbungkus dengan rapi, kemudian disimpan di salah satu rumah warga yang telah ditunjuk," bebernya.

Serak Gulo, sebut Iskandar, merupakan
sebuah ungkapan rasa hormat, terima kasih dan permohonan dan cinta kasih pada seorang Wali Allah bernama H.Imam Saul Hamid yang merupakan orang keramat di Kota Nagur Syarif.

"Semasa hidupnya, Imam Saul Hamid ini sangat pemurah dan suka memberi kepada siapa saja terutama yang membutuhkannya. Jadi, sebagai unkapan rasa hormat dan terimakasih kepada Wali Allah itu makanya dilaksanakan upacara Serak Gulo," tuturnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved