Selasa, 14 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Polres Kampar Ungkap Mata-Mata Bandar Narkoba Bergaji Rp 200.000 Per Hari

Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Kampar mengungkap adanya peran mata-mata dalam bisnis Sabu di Kampar

Penulis: Fernando Sihombing | Editor:

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Fernando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Kampar mengungkap adanya peran mata-mata dalam bisnis Sabu di Kampar. Mata-mata disewa bandar untuk mengamankan bisnis haram itu.

Kepala Satres Narkoba, Iptu. Asdisyah Mursid mengungkapkan, bisnis Shabu terorganisir dan dijalankan dengan apik. "Mata-mata digaji 200.000 per hari. Hanya melihat-lihat siapa yang masuk ke desa. Sudah terorganisir," ujarnya usai pemusnahan barang bukti Shabu dan Ekstasi, Rabu (28/2/2018).

Asdi, sapaan akrabnya, mengatakan, mata-mata yang tahu jika ada polisi yang ingin masuk ke desa untuk melakukan penangkapan, segera memberi informasi kepada bandar. Sehingga bandar yang menjadi target petugas lebih dahulu kabur atau menyembunyikan barang bukti.

Mata-mata yang disebut dia, merupakan salah satu penghambat bandar kadang sulit ditangkap. Penangkapan tidak mungkin dilakukan jika barang bukti tidak ditemukan pada terduga bandar saat digeledah.

Selain mata-mata, Asdi menyebutkan istilah "becak". Menurut dia, becak berada di bawah bandar dan pembeli. Ia mengungkapkan, bandar umumnya mengendalikan peredaran Shabu dari penjara.

Baik bandar maupun pembeli masing-masing mengutus becak dalam serah terima Shabu. Canggihnya, becak tidak saling bertemu. Becak dari bandar meletakkan barang di satu tempat untuk kemudian diambil oleh becak pembeli.

Menurut Asdi, khusus Shabu, bandar di Kampar cenderung menyediakan dalam jumlah sedikit. Begitu barang tiba, kurir dikumpulkan dan barang langsung dibagikan. "Sesudah dibagikan, uangnya tinggal kutip aja lagi. Jadi bandar nggak megang barang," ujarnya.

Asdi mengatakan, barang bisa dijemput kapan saja ke bandar besar karena jaraknya dekat dari Kampar. Oleh karena itu, mereka tidak perlu menyimpan Shabu dalam jumlah banyak.

Lanjut Asdi, pintu masuk Shabu ke Kampar dari Pekanbaru dan Kandis, Siak. Shabu yang beredar di wilayah Tapung kebanyakan dari Kandis. Menurut dia, ada juga dari Dumai dan Medan.

"Kalau yang dari Medan itu, modusnya banyaklah. (Misalnya) dalam bentuk paket (kue) Bika Ambon. Ada juga dalam sepatu. Di dalamnya Shabu," jelas Asdi.

Ditanya peredaran Shabu di Kampar, Asdi memperkirakan tidak kurang dari satu kilogram dalam sebulan. Bahkan lebih. Ia mencontohkan di Desa Kusau Makmur Kecamatan Tapung Hulu mencapai 1,5 ons per minggu. "Itu masih satu desa," katanya.

Meski begitu, Asdi mengklaim, peredaran Shabu di Kampar berkurang sekitar 40 persen. Perkiraan ini mengacu rasio jumlah kasus yang diungkap Polres Kampar antara Januari dengan Februari.

Asdi menyebutkan, peredaran Shabu merata di 21 kecamatan se-Kampar. Menurut dia, semua kecamatan rawan Shabu. Namun paling rawan di daerah pelosok. Seperti di wilayah Mandau Kecamatan Tapung Hulu dan Desa Kuntu Kecamatan Kampar Kiri.

Asdi tetap optimis pengungkapan Narkoba terus bertambah. Meski pelaku menjalankan bisnisnya dengan sangat apik. "Serapi-rapinya (pelaku) main, pasti kena juga," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved