Kampar

Konflik Warga dengan Perusahaan di Kampar, Warga di Batu Bersurat Klaim Lahannya Diserobot

Konflik PT. Sumatera Agro Tunas Utama (SATU) dengan masyarakat di Kecamatan XIII Koto Kampar tampaknya meluas.

Konflik Warga dengan Perusahaan di Kampar, Warga di Batu Bersurat Klaim Lahannya Diserobot
ist
Tanaman kelapa sawit milik warga di Kelurahan Batu Besurat Kecamatan XIII Koto Kampar yang diduga dicabut salah satu perusahaan 

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Konflik PT. Sumatera Agro Tunas Utama (SATU) dengan masyarakat di Kecamatan XIII Koto Kampar tampaknya meluas.

Belum selesai dengan kelompok masyarakat di Desa Koto Tuo, sekarang perusahaan berkonflik di Kelurahan Batu Bersurat.

Warga Batu Bersurat menuding perusahaan telah menyerobot kebun plasma Kelapa Sawit milik mereka. Ini dikemukakan oleh M. Hatta, seorang tokoh masyarakat setempat pada Jumat (1/6/2018).

Baca: Kejati Terima SPDP Bansos Bengkalis, Ada 2 Tersangka Baru

Penyerobotan sudah berlangsung sejak Selasa, 29 Mei lalu.

"Lahan kebun plasma kami ratusan hektare diserobot," ungkap Hatta.‎ Menurut dia, lahan itu sebelumnya telah ditanami Kelapa Sawit oleh PT. Central Warisan Indah Makmur selaku bapak angkat masyarakat. Kebun dibangun dengan pola Koperasi Kredit Primer untuk Anggota (KKPA).

Baca: Inilah Penyebab Listrik Sering Mati di Tembilahan Belakangan Ini

Hatta menjelaskan, orang bayaran perusahaan dengan semena-mena mencabuti tanaman Kelapa Sawit masyarakat. Bahkan di atas lahan mereka telah dibuat parit pembatas.

"Sebagian lahan sudah dibuat parit gajah," kata Hatta yang juga anggota KKPA.

Ia menduga, lahan masyarakat dicaplok PT. SATU karena dijual sepihak oleh oknum Ninik Mamak setempat. Padahal, lahan yang mereka tanami itu jelas-jelas pengganti pembangunan Waduk PLTA Koto Panjang.

Baca: Tak Perlu Produk Kecantikan, Tanpa Anda Sadari, 6 Sayuran Ini Bisa Bikin Anda Terlihat Cantik Lho

Lahan pengganti itu diserahkan oleh pemerintah untuk dijadikan daerah transmigrasi. Dahulu, jelas Hatta, masyarakat Batu Bersurat dipindahkan ke areal itu karena perkampungan akan ditenggelamkan oleh genangan waduk.

Hatta menjelaskan, konflik ini menjadi berlarut-larut karena tidak ada niat baik dari PT. SATU.

Berbagai upaya penyelesaian sudah ditempuh. Salah satunya dengan berunding dengan Ninik Mamak yang menjual tanah kepada PT. SATU.

Baca: Trending, Video Klip Maroon 5 Girls Like You Libatkan 26 Perempuan Hebat, Ini Daftarnya

Namun belakangan, Ninik Mamak terkesan menghindar.

Konflik pun menggantung sampai sekarang.‎ Hatta mendesak perusahaan menghentikan aktivitasnya di atas lahan masyarakat. ‎Ia meminta alat berat ditarik dari lokasi.

"Masyarakat tidak segan-segan membakar alat perusahaan," ancamnya. (*)‎

Penulis: Fernando Sihombing
Editor: Budi Rahmat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved