Tan Malaka, Pendiri Sekaligus Korban ‘PKI’ yang Pernah Bermimpi Islam di Seluruh Dunia Dapat Bersatu

Menurut Tan Malaka, alangkah hebatnya kekuatan umat Islam apabila dapat dipersatukan. Tetapi kenyataannya terpecah ibarat pasir kering.

Wikipedia/Dari Pendjara ke Pendjara
Tan Malaka 

Haji Subagyo I.N, artikel ini pertama kali dimuat di Majalah Intisari edisi Maret 1971 dengan judul asli “Ketemu Alimin dan Tan Malaka”.

TRIBUNPEKANBARU.COM - Untuk kali pertama saya melihat pribadi Tan Malakaialah pada waktu Kongres Persatuan Wartawan Indonesia, yang diadakan di Solo.

Pada hari kedua, yaitu menjelang penutupan Kongres, di sociteit Mangkunegaran yang konon pada clash ke-II sudah dibumi hanguskan.

Pembicaraan Kongres sudah selesai dan sebagai “gong“-nya segenap hadirin akan diminta mendengarkan pidato Ibrahim Gelar Sutan Malaka.

Orangnya sudah cukup tua, badannya cukup kekar, dalam arti bahwa otot-ototnya masih belum begitu nampak kendor.

Raut mukanya tajam, kulitnya agak kehitam-hitaman. Tanggapan saya pertama kali: agak malu-malu. Atau bescheiden?

Lama Tan Malaka berpidato. Konon sampai tiga jam.

Baca: Nyeri Tubuh Segera Sembuh Pakai Trik Bola Tenis, Yuk Ikuti Panduannya!

Dia uraikan pengalamannya selama bertualang meninggalkan Tanah Air, dari satu negara ke negara yang lain, keluar masuk penjara, berebut ulung dengan polisi internasional yang senantiasa mengintip gerak langkahnya.

Yang saya ingat lagi dari pidatonya itu ialah tentang kekuatan umat Islam yang tersebar sejak dari Afrika Utara sebelah Barat, di Maghribi (Maroko) terus kearah Timur ke Libia, ke Tunisia, Mesir, Timur Tengah, India (Pakistan), semenanjung Melayu sampai ke Indonesia.

Menurut Tan Malaka, alangkah hebatnya kekuatan itu apabila dapat dipersatukan.

Halaman
1234
Editor: Ariestia
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved