Breaking News:

Mengulik Sejarah Piala Dunia dan Nasib Nona-nona Gila Bola

Penyelenggaraan Piala Dunia, berjalan bersamaan dengan sekelumit peristiwa sejarah dan cerita dari pada manusia-manusia di dalamnya.

Wallpaper Stock
Ilustrasi 

Federasi sepak bola internasional pun lekat dengan peristiwa-peristiwa politik dunia.

Baca: Alhamdulillah, Rumah Tengku Syufri yang Sabar Membantu Kakek Rusman Akan Direhab

Baca: KM Lestari Maju Kemasukan Air Karena Cuaca Buruk Lalu Dikandaskan, Bukan Tenggelam 

Baca: Ganti Rugi Rp 200 Juta Ditolak, Mediasi Warga dengan PT Samantaka Gagal

Permainan ini masuk ke Indonesia diperkenalkan oleh kolonial Belanda dan sebelum berdirinya Indonesia, asosiasi dan klub sepak bola di Hindia Belanda/Indonesia tersegregasi berdasarkan ras: klub pemain kulit putih, Tionghoa dan pribumi sebagai implikasi dari aturan segregasi kolonial.

Sebelum federasi internasional FIFA (The Fédération Internationale de Football Association) mendominasi turnamen sepak bola internasional, masing-masing negara biasanya memilik tata aturan main yang khas, misalnya istilah-istilah permainan sepak bola di Hindia Belanda-Indonesia dpengaruhi oleh bahasa Belanda.

Kini, aturan permainan mengacu pada FIFA yang menggunakan aturan main sepak bola khas British/Inggris.

Apabila peserta turnamen Piala Dunia pada awal penyelengaraan turnamen internasional FIFA pada tahun 1930 sangat sedikit dan terlunta-lunta akibat depresi ekonomi Eropa dan banyaknya negara-negara Eropa yang masih bersitegang pasca perang dunia pertama, setelah perang dunia kedua berakhir dan banyaknya negara-negara yang lepas dari penjajahan membuat FIFA menyesuaikan diri menambah jumlah negara yang hendak berpartisipasi.

Baca: Terancam Terjebak di Gua Hingga Oktober, Tim Sepak Bola Remaja di Thailand Harus Dilatih Menyelam

Baca: RESMI, Kominfo Blokir Aplikasi Tik Tok Usai Muncul Petisi Protes Banyak Konten Negatif

Negara-negara baru tersebut sadar bahwa bergabung dalam turnamen sepak bola internasional juga berguna untuk pengakuan de Yure seperti yang dilakukan Kroasia, Argentina hingga negara-negara Afrika.

Peristiwa politik dunia juga menyemarakkan panasnya Piala Dunia.

Pada turnamen tahun 1998 misalnya, piala dunia sempat mengalihkan luka bangsa Indonesia dari tragedi kerusuhan dan perkosaan massal perempuan tionghoa pada mei 1998 gara-gara pertandingan fenomenal antara Amerika Serikat melawan Iran.

Iran yang di bawah pemerintahan Ayatullah Khomeini melakukan revolusi pada tahun 1979 menentang Amerika Serikat dibalas melalui embargo ekonomi oleh negara pemenang perang dunia kedua ini.

Perseteruan dua negara dalam panggung politik dunia tidak berlaku di lapangan hijau, para pemain Amerika Serikat dan Iran bersalaman dan tim Iran bahkan memberi mawar putih sebagai lambang perdamaian.

Setelah pertandingan, kedua negara tetap berseteru dan bangsa kita kembali harus saling mengingatkan tentang penyebab luka-lukanya.

Baca: Uang Milik Sulselbar Rp 30 M untuk Pembayaran Gaji PNS 13 Tenggelam Bersama KM Lestari Maju

Baca: 7 Fakta Aplikasi Tik Tok yang Resmi Diblokir Kominfo; Diunduh Lebih 45 Juta Pengguna

Baca: Piala AFF U-19 2018, Timnas Indonesia vs Singapura

Nasib Penggemar Perempuan di Negara Islam

Penonton wanita
Penonton wanita ()

Tidak semua perempuan penggemar sepak bola seberuntung Wulan yang bisa berkali-kali menonton sepak bola di stadion.

Beberapa negara melakukan diskriminasi gender terkait menonton sepakbola dan pertandingan olahraga lainnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved