Breaking News:

Mengulik Sejarah Piala Dunia dan Nasib Nona-nona Gila Bola

Penyelenggaraan Piala Dunia, berjalan bersamaan dengan sekelumit peristiwa sejarah dan cerita dari pada manusia-manusia di dalamnya.

Wallpaper Stock
Ilustrasi 

Arab Saudi baru-baru ini saja mencabut larangan perempuan masuk stadion untuk menonton pertandingan olahraga setelah peraturan tersebut bercokol lebih dari 30 tahun lamanya terhitung sejak 1980.

Setali tiga uang dengan saudaranya yang beraliran Sunni, negara Iran pada pertandingan Piala Dunia melawan Maroko pada Jumat , 15 Juni lalu kampanye #OpenStadiums gencar dilakukan oleh perempuan Iran agar pemerintah mencabut larangan perempuan masuk stadium.

Selain dilarang masuk menonton sepak bola di stadium, aturan melarang perempuan menonton langsung pertandingan laki-laki berlaku juga pada pertandingan voli yang telah menjadi tontonan favorit para penduduk.

Akibat peraturan tersebut, banyak perempuan Iran masuk dengan berpenampilan seperti laki-laki dengan menggunakan wig dan kumis palsu.

Pada tahun 2014, Ghoncheh Ghavami, seorang perempuan berdarah Iran-Inggris melakukan protes terhadap larangan ini namun ditangkap oleh pemerintah dan mendapat ganjaran penjara setahun sampai organisasi hak asasi manusia internasional menekan untuk Ghavami dibebaskan dan kembali ke Inggris.

Baca: Perempat Final Piala Dunia 2018 Diisi 3 Mantan Juara Dunia, Inggris Ditunggu-tunggu

Baca: Tersingkir dari Piala Dunia 2018, Jepang Bikin 2 Skor Sekaligus

Baca: KERAS, Media Spanyol Sebut Timnas Mereka Bodoh Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2018

Apabila perjuangan perempuan Iran kini adalah hak untuk menonton pertandingan pria seperti turnamen Piala Dunia.

Nasib perempuan di Arab Saudi jauh lebih menyedihkan daripada sekedar pelarangan sepanjang 30 tahun.

Sebelum Olimpiade London 2012, Arab Saudi tidak punya atlet perempuan di ajang olahraga internasional.

Melarang perempuan untuk masuk stadium terjadi pada negara Islam yang menerapkan aturan Islam.

Turki sebagai negara mayoritas muslim memahami permasalahan lebih menyeluruh dengan melihat bahwa kerusuhan antar fans dilakukan oleh penggemar laki-laki, maka pada tahun 2011 dalam sebuah pertandingan sepak bola memberikan tiket menonton hanya kepada perempuan dan anak-anak di bawah usia 12 tahun untuk menonton pertandingan Fenerbahce.

Stadion Sukru Saracoglu menjadi saksi 41.000 perempuan dan anak-anak menggunakan atribut penggemar yang sama dan menyanyikan mars klub yang didukungnya.

Begitu pula dengan pertandingan di Indonesia, Wulan menyatakan dia pernah datang dalam sebuah pertandingan persahabatan sendirian di tahun 2004 dan menurutnya bagi Indonesia yang juga mayoritas muslim, tidak mempermasalahkan perempuan datang menonton langsung di stadion.

Menurutnya lagi bahkan ada keluarga yang membawa seluruh anggotanya untuk menonton turnamen sepak bola.

Menikmati sepakbola, adalah hak segala bangsa terbebas dari warna kulit, kelas sosial dan gendernya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved