Menengok Nasib Preman di Era Soeharto, Ditembak Mati dengan Kondisi Jempolnya Selalu Sama

Soeharto lalu memerintahkan agar segera dibentuk tim yang beranggotakan aparat TNI/Polri untuk melaksanakan operasi penumpasan kejahatan

Menengok Nasib Preman di Era Soeharto, Ditembak Mati dengan Kondisi Jempolnya Selalu Sama
(ARSIP FOTO) KOMPAS / JB SURATNO
Presiden Soeharto sedang mencoba mobil hadiah dari PM Malaysia Mahathir Muhamad, di Jakarta, 19 Mei 1994. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Bagi mereka yang lahir pada era 1980-an, tentu masih sempat merasakan kehidupan pada era Orde Baru, atau zaman pemerintahan Soeharto.

Pada tahun 1980-an, saat itu aparat keamanan memang sedang dibuat gerah oleh maraknya aksi preman jalanan yang populer dengan sebutan gabungan anak liar (gali).

Aksi mereka sempat mengganggu roda perekonomian RI.

Misalnya, kawasan terminal yang sudah dikuasai oleh para gali membuat para pengusaha bus terus mengalami kerugian, banyaknya begal yang membajak bus dan truk di jalanan, dan lainnya.

Presiden Soeharto lalu memerintahkan agar segera dibentuk tim yang beranggotakan aparat TNI/Polri ( saat itu ABRI) untuk melaksanakan operasi penumpasan kejahatan terhadap para begal yang makin marak dan merugikan.

Hingga tahun 1982, Polri di bawah pimpinan Kapolri Jenderal Awaloedin Djamin telah melakukan berbagai operasi penumpasan kejahatan.

Dilansir dari Surya.co.id, polri melancarkan Operasi Sikat, Linggis, Operasi Pukat, Operasi Rajawali, Operasi Cerah, dan Operasi Parkit di seluruh wilayah Indonesia serta berhasil menangkap 1.946 penjahat.

Baca: Kala Dieng Diselimuti Embun Salju dan Dingin Bak Eropa, Petani Kentang Cemas

Baca: Link Live Streaming Indonesia Open 2018 dan Jadwal Tayang di Trans7 Hari Ini

Baca: Waduh, Akibat Aksi Diving Neymar, Anak-anak SD Dilarang Bermain Sepak Bola

Meski sudah banyak penjahat yang diringkus, operasi penumpasan kejahatan terus berlanjut.

Seperti yang dilakukan oleh Komando Daerah Militer (Kodim) 0734 Yogyakarta di bawah pimpinan Kolonel Muhamad Hasbi.

Kolonel Hasbi saat itu (1983) menyatakan perang terhadap para preman atau gali yang aksinya makin meresahkan masyarakat Yogyakarta.

Halaman
1234
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved