Pebisnis Properti Menjerit, Namun Sedikit Terbantu dengan Aturan BI Ini

Komponen-komponen yang diimpor langsung dari luar negeri rata-rata mengalami kenaikan harga dipicu anjloknya nilai tukar rupiah

Pebisnis Properti Menjerit, Namun Sedikit Terbantu dengan Aturan BI Ini
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi 

Laporan Wartwan Tribun Pekanbaru Hendri Gusmulyadi

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Real Estate Indonesia (REI) Riau tak menampik, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang tak kunjung stabil, cukup berpengaruh terhadap harga komponen yang digunakan untuk usaha konstruksi.

Ketua REI Riau, Nursyafri Tanjung belum lama ini mengatakan, komponen-komponen yang diimpor langsung dari luar negeri rata-rata mengalami kenaikan harga dipicu anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Sektor bisnis yang melakukan pembelian bahan-bahan bangunan dari luar negeri, mau tidak mau harus mengeluarkan biaya lebih untuk dapat memenuhi kebutuhan akan komponen perumahan.

"Ini langsung berdampak pada biaya produksi, yang dulu untuk membangun satu unit rumah kita bisa dengan harga sekian, sekarang harus lebih tinggi lagi," jelas Syafri.

Baca: Pemenang Bujang Dara Rohul 2018‎ Sudah Diumumkan, Jadi Wakil ke Pemilihan Tingkat Provinsi

Seperti diketahui, saat ini nilai tukar rupiah untuk satu dolarnya menyentuh angka Rp.14.400. Walau pada awal Juli 2018 rupiah sedikit mengalami pengutan, saat ini kembali tertekan seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang kemudian memicu penguatan dolar AS secara meluas.

Menurut Syafri, nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat saat ini jauh tertekan dan tidak sesuai fundamentalnya. Membuat banyak kalangan pengusaha terutama yang mengandalkan produk impor menjerit.

Nilai tukar rupiah yang begitu kalah terhadap dolar, sangat berpengaruh terhadap kemajuan bisnis yang dijalan oleh angota-anggota REI secara umum.

Beberapa kalangan pengusaha yang bergerak di bidang properti mengeluh akan kondisi yang ada saat ini. Selain harus melakukan penyesuaian harga karena biaya produksi yang makin tinggi, penjualan pun saat ini juga mengalami penurunan.

"Contohnya kawan-kawan di Kepri (Kepulauan Riau) telpon ke saya dan bilang mereka berhenti membangun rumah komersil, mereka banyak yang beralih ke rumah bersubsidi. Bahkan di wilayah kepri pun bisnis rumah subsidi pun sulit, sehingga mereka ekspansi dan mencoba peruntungan ke Riau dan Jambi. Itu salah satu contoh nyata dampak dari naiknya harga dolar, sehingga membuat daya beli dari masyarakat lemah sekali," terang Syafri.

Baca: VIDEO: KONI Pekanbaru Temuai Dinas Koperasi Dalam Upaya Pembentukan Koperasi

Syafri menjelaskan, meski kondisi bisnis perumahan komersil tak sesuai harapan karena biaya produksi yang makin meningkat, namun para pengembang cukup terbantu dengan adanya aturan baru dari Bank Indonesia (BI) mengenai sistem jual beli rumah komersil.

Melalui sitem Loan to Value yang tertuang dalam Perturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 18/16/PBI/2016, pebisnis properti dapat memberikan kredit tanpa DP bagi konsumen yang membeli rumah komersil.

"Kita terbantu dengan aturan ini, bahkan kita boleh menjual rumah tanpa harus ada uang muka, nol persen. Ini sedikit agak membantu kita dan lebih mudah dalam memjual rumah walau kondisi seperti sekarang. Kalau dulu kan mau beli rumah komersil harus ada DP 20 persen, 30 persen. Tapi saat ini pengembang boleh pakai aturan LTV (Loan to Value) BI," ucap Syafri. (*)

Penulis: Hendri Gusmulyadi
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved