Generasi Millenial Cerdik Tangkap Peluang Bisnis di Era Digital, Ekonomi Indonesia Semakin Bergairah

Calon pebisnis online ini dituntut untuk menabung supaya ide yang telah dirancang bisa diaplikasikan dengan baik

Generasi Millenial Cerdik Tangkap Peluang Bisnis di Era Digital, Ekonomi Indonesia Semakin Bergairah
Foto/net
Ilustrasi 

“Kita mulai dari akun Instagram, yang dimulai dari 5 Oktober 2014. Kita coba buat konten, kita tampil secara kreatif. Itu yang membuat orang mudah kenal dan dekat dengan Brosis. Kita sebenarnya juga tidak sampai ekspektasi sampai sebesar ini. Basic kita adalah sebagai konten kreator. Kemudian kita buat konten yang benar-benar bisa dinikmati, dan ternyata respon orang luar biasa,” kata Rangga kepada Tribunpekanbaru.com beberapa waktu lalu.

Mulai berkembangnya produk Brosis Pku kepada bidang lain, kemudian banyaknya konten yang dijelajahi, serta cukup banyaknya kerjasama serta iven yang dibuat oleh Brosis,  ternyata yang mengerjakan semua itu hanya kurang dari 10 orang. Mereka semua merupakan anak-anak muda, yang menyenangi dunia digital, kuliner dan wisata.

Bahkan khusus untuk konten makanan yang hampir setiap hari muncul di Instagram Brosis Pku ternyata hanya dikerjakan oleh dua orang perempuan, yang memang diberikan tugas khusus untuk berkeliling Pekanbaru, mencicipi serta membuat ulasan makanan yang dicoba tersebut.

“Untuk tim Brosis hanya 10 orang. Ada yang bertugas freelance, dan ada tim kita juga di sini. Selain itu, kita juga punya dua orang anggota perempuan, yang ke sana- sini, untuk mencoba makanan dan mengulas makanan tersebut, atau untuk hunting foto sekitar Kota  Pekanbaru,” ulasnya.

Uniknya, lebih dari 90 persen konten tersebut ternyata tim Brosis hanya datang ke tempat makan. Kemudian mengambil foto secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemilik tempat makan dan mengunggahnya. Sedangkan sebagian kecil baru diminta mereka untuk datang untuk mengulas makanan tersebut.

“Konten makanan yang kita posting, itu bukan murni semuanya orang yang meminta kita untuk datang, kemudian membayar. Karena lebih dari 90 persen, konten yang kami posting adalah kami yang keluar uang sendiri. Kami datang ke suatu tempat, mungkin tempat  tersebut ramai, enak, kita butuh informasikan itu, masyarakat perlu tahu itu. Kita makan, kita foto diam-diam, kita bikin captionnya, kita posting. Tiba-tiba nanti dari ownernya yang akan menghubungi kita, Brosis kemaren datang ke sini ya, mengapa tidak bilang, terimakasih ya, biasanya seperti itu,” papar Rangga.

Sementara untuk penghasilan, dia menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan timnya dan mitra, lebih kepada pertemanan dan persahabatan. Sehingga, ketika mitranya terganjal suatu kendala terkait bisnis yang mereka jalani, Brosis sangat ingin membantu, walaupun itu di luar kerjasama yang dibuat sebelumnya. 

“Sebab bekerjasama dengan sistem pertemanan tersebut jauh lebih penting dan lebih bahagia ketimbang hanya menerima uang dari apa yang dikerjakan,” tutup dia.

Selanjutnya, ada start up kesehatan, Medicaboo yang didirikan pemuda kelahiran Pekanbaru 1991, Farly Nur Dewantara. Aplikasi ini meyediakan reservasi berbagai layanan kesehatan yang diklaim sebagai aplikasi kesehatan pertama di Indonesia.

Adapun layanan yang diberikan adalah pemesanan kamar rawat inap secara daring lengkap dengan harga dan tipe kamar serta reservasi dokter spesialis yang diinginkan. 

Co-Founder Medicaboo, Farli perlihatkan layanan kesehatan digital pertama, Medicaboo.
Co-Founder Medicaboo, Farli perlihatkan layanan kesehatan digital pertama, Medicaboo. (TribunPekanbaru/Firmauli Sihaloho)
Halaman
1234
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: Firmauli Sihaloho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved