Selasa, 12 Mei 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Pilpres 2019

Tolak Jadi Cawapres, Ustaz Abdul Somad Ceritakan Kisah Sayyidina Umar bin Khattab

"Berharap kepada harta akan binasa, berharap kepada makhluk akan kecewa," kata Ustaz Abdul Somad, soal dukungan jadi cawapres

Tayang:
Penulis: harismanto | Editor: harismanto
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Ustadz Abdul Somad 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Soal banyaknya dukungan untuk maju sebagai calon wakil presiden (Cawapres), Ustaz Abdul Somad (UAS) meminta masyarakat tidak terlalu berharap, karena puncak kekecewaan adalah harapan.

"Oleh karena itu, kita jangan terlalu banyak berharap, karena semakin tinggi pengharapan maka semakin tinggi kekecewaan. Jadi kalau orang terlalu berharap kepada saya, ia akan kecewa dan berakhir dengan marah. Maka harapan tertinggi adalah harapan kepada Allah SWT. Berharap kepada harta akan binasa, berharap kepada makhluk akan kecewa," jelasnya, saat diwawancara Tim TV One dalam Program Fakta, Senin (6/8/2018).

Baca: Penjelasan Ustaz Abdul Somad yang Menolak Jadi Cawapres. UAS: Saya Lebih Tepat Jadi Dai dan Pendidik

Baca: Diusung Jadi Cawapres Pada Pilpres 2019, Ustaz Abdul Somad dengan Tegas Beri Jawaban Ini

Baca: Al Azhar : Kita Hormati Pilihan Ustaz Abdul Somad di Jalan Dakwah

Menurut Ustaz Abdul Somad, barangsiapa yang berharap kepada Allah SWT, harus mengikuti aturan yang dibuat Allah SWT.

"Harapan tentang apa, harapan tentang cinta, harapan tentang hidup, harapan tentang memilih pemimpin, ikuti aturan yang sudah dibuat Allah SWT," katanya.

Begitu tahu tahu hasil ijtimak ulama, katanya, ia langsung mengomentarinya agar tak menjadi isu.

"Yang pertama saya sebagai Hamba Allah, merespon hasil ijtimak ini dengan mengucapkan terimakasih kepada semua ulama, sahabat, dai, santri yang sudah begitu peduli, dengan ucapan semoga Allah memberikan balasan. Karena dalam Islam diajarkan, siapa yang sudah berbuat baik kepada kamu, kalau kamu tidak sanggup membalas maka doakan," katanya.

Yang kedua, katanya, bahwa dia, Abdul Somad mengerti betul tentang dirinya.

"Maka saya memberikan respon, penghargaan, menghormati guru kita, sahabat kita, Alhabib DR Salim Segaf Al Jufri. Beliau S1, S2, S3 di Madinah. Pernah menjadi menteri. Pernah menjadi dubes. Ilmunya, semuanya, kematangan emosionalnya, ya guru kita semua. Mengajar politik, langsung berkecimpung di dunia politik di berbagai ordenya. Jadi saya kira, itulah (dukungan, Red) saya berikan kepada guru tersebut," ungkap Ustaz Abdul Somad.

Lalu kemudian tentang masalah dukung mendukung, support mensupport ke depan sampai hari ini, katanya, bisa dicek ceramah dia satu-persatu.

"Saya tidak pernah menyebut nama, tidak pernah menyebut partai, tidak pernah menyebut nomor, tidak pernah menyebut warna. Kita hanya bercerita tentang umum. Pilihlah pemimpin yang peduli pada Islam. Pilih pemimpin yang sayang kepada ulama. Pilih pemimpin yang amanah. Pilih pemimpin yang adil. Itu saja. Tidak pernah menyebut secara spesifik, partai, golongan, kelompok. Bahwa ada yang mengindikasikan lalu menarik ceramah kita itu ke arah tertentu, itu kesimpulan masing-masing," jelas Ustaz Abdul Somad.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ijtimak artinya pertemuan, perkumpulan, konsesus, kesepakatan. Ulama berkumpul dari berbagai macam ormas, aliran, kelompok, lalu kemudian berkumpul di suatu tempat, membahas suatu masalah lalu melahirkan rekomendasi.

"Bahwa untuk pertemuan kali ini, kami menyetujui calon presiden itu A, sedangkan wakil yang mendampingi itu A dan B. Ini semacam saran, kira-kira apa kata umat. Dan umat akan merespon. Ini yang terjadi sekarang. Oleh karena itu, maka saran dari para alim ulama ini, terserah kembali kepada pribadi yang diberikan rekomendasi itu. Apakah dia menerima atau tidak. Dan tentu semua orang punya hak untuk menerima atau tidak," kata Ustaz Abdul Somad.

Dalam Islam, katanya, tidak ada keterpaksaan. Ia menceritakan kisah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Lalu para sahabat berkumpul.

"Sayyidina Umar bin Khattab engkaulah yang layak menjadi kalifah pengganti dalam urusan kepemimpinan Rasulullah SAW." Kata Umar, ada yang lebih berhak. Saat ditanya siapa, kata dia "Abu Bakar." Karena ketika Nabi Muhammad SAW sedang sakit, yang disuruh menjadi imam adalah Abu Bakar Siddik," kata Ustaz Abdul Somad.

Padahal, waktu itu usia Abu Bakar Siddik sudah 61 tahun.

"Sudah tua. Jadi kalau dihitung-hitung waktu itu, mungkin rating Umar lebih tinggi. Tapi Umar melihat ini ada orang yang lebih layak," katanya.

Begitu juga ketika Sayyidina Umar meninggal dunia. Datang orang yang ramai ke rumah anaknya. Namanya Abdullah. Dia diminta mengganti ayahnya. Kata Abdullah, "Ini urusan politik, strategi, saya tidak mampu dan tidak sanggup." Ternyata darah siasat, strategi Umar tidak menurun kepada anaknya," jelas Ustaz Abdul Somad.

Abdullah bin Umar, katanya, lebih fokus pada mengajar.

Abdullah bin Umar adalah satu dari tujuh sahabat Nabi Muhammad SAW yang fokus pada pendidikan, banyak meriwayatkan hadits-hadits dan ahli Fiqih.

"Jadi sebenarnya agama Islam dalam soal kepemimpinan ini sudah matang dan itu dibukukan dalam sebuah kitab Hukum-hukum Kesultanan, Hukum Tata Negara dalam Islam yang ditulis Imam Almawardi pada tahun 450 H. Jadi masalah ini kita tinggal mengaca ke belakang. Bahkan di UIN, IAIN ada satu jurusan di Fakultas Hukum Islam, namanya jurusan Siasah Syariah (politik Islam). Jadi, umat Islam yang sudah mengkaji soal ini tidak terkaget-kaget dengan politik Islam," ungkap Ustaz Abdul Somad.

Ustaz Abdul Somad kembali menegaskan, dirinya lebih tepat jadi sebagai dai dan pendidik saja.

"Kalau orang memilih sosok, nama, ada standar dan ukurannya apa. Ukuran Abdul Somad dipilih apa? Celaka orang yang tak tahu siapa jati dirinya. Dari dulu saya katakan saya lebih tepat sebagai dai dan pendidik saja. Dua itu," kata Ustaz Abdul Somad saat diwawancara Tim TV One dalam Program Fakta, Senin (6/8/2018).

"Kenapa saya pendidik, karena saya di kampus. Kenapa saya dai, ustadz mengajak masyarakat umum. Jadi ada dua segmen. Segmen kelas yang kecil 20-30 orang mengajar dan bertatap muka 2 SKS. Kemudian masyarakat besar, tablik akbar sampai ribuan, ratusan ribu, tapi semuanya mengajak orang ke jalan Allah. Membuat umat ini jadi berkumpul ramai, alhamdulillah kita sudah membuat umat ini jadi berkumpul ramai, Alhamdulillah kita sudah, Allah SWT yang membuat itu sebenarnya kita berkerumun, setelah mereka berkerumun, lalu kemudian merubahnya menjadi sebuah barisan kekuatan Islam," ungkap Ustaz Abdul Somad.

Adapun yang dijadikan standar, katanya, siapa yang paling banyak dicari di internet.

"Itu tidak bisa dijadikan standar. Karena saya sendiri sudah mengecek, memang di situ yang paling banyak adalah Abdul Somad, tapi masih dikalahkan oleh Nisya Sabyan," ucapnya bercanda.

Soal dirinya yang semakin populer di tengah masyarakat, Ustaz Abdul Somad, mengatakan, ia menganggap itu sebagai ujian.

"Karena kata Allah SWT kami uji manusia itu dengan kebaikan-kebaikan. Banyak orang menganggap kalau sedang sakit diuji, kalau sedang susah diuji. Padahal, popularitas, harta, jabatan itu juga ujian. Jadi ini kita anggap bagian dari ujian keimanan, ujian keikhlasan, dan istiqomah. Mudah-mudahan kita lulus," ungkap Ustaz Abdul Somad.

Simak videonya:

(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved