Breaking News:

Citizen Journalism

Tokoh hingga Ulama Ramaikan Kontestasi Pilpres 2019

Yang mewarnai kontestasi Pilpres kali ini adalah para ulama yang ikut bergerilya dalam menentukan siapa calon pemimpin negeri ini.

Editor: Sesri
.
Al Qudri 

Oleh Al Qudri (Dirjen Aksi Propaganda Kemensospol BEM UNRI)

BEBERAPA bulan terakhir suasana kontestasi Pilpres kembali memenuhi media cetak, media online dan bahkan media sosial.

Suasana yang tak lagi asing untuk dirasakan yang merupakan pesta demokrasi terbesar di negeri ini.

Banyak tokoh-tokoh baru yang muncul ke permukaan, masih teringat jelas dikepala kita bahwa seorang Jendral yang gagah berani Jendral Gatot Nurmantyo, Gubernur Fenomenal yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang dan Gubernur Jawa Barat yang memiliki segudang prestasi Ahmad Heryawan , tetapi ketika mendekati pendaftaran pada 4-10 Agustus 2018 Capres dan Cawapres mereka semua tenggelam menyisakan dua pasang kandidat yaitu Joko Widodo-KH Ma’Aruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Yang mewarnai kontestasi Pilpres kali ini adalah para ulama yang ikut bergerilya dalam menentukan siapa calon pemimpin negeri ini.

Secara keseluruhan pertarungan Pilpres kali ini tidak jauh berbeda dengan Pilpres 2014, dikarenakan kandidat capres saat ini sama seperti Pilpres 2014.

Joko Widodo kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto untuk memperebutkan Kursi RI1.

Apakah drama-drama akan tersaji kembali layaknya Pilpres 2014?

Sangat ditunggu-tunggu bagaimana kelanjutan dari drama Pilpres 2019 ini, apakah Jokowi kembali keluar sebagai pemenangnya atau malah Prabowo yang mampu membalaskan kekalahannya pada Pilpres 2014 terhadap Jokowi.

Yang membuat ini semakin menarik adalah ketika Jokowi menggandeng KH Ma’aruf Amin yang merupakan ulama senior di negeri ini untuk dijadikan Cawapres untuk mendampinginya di Pilpres 2019.

Yang menjadi pertanyaan adalah “apa motif Jokowi menggandeng KH Ma’aruf Amin menjadi Cawapresnya?” tentu saja banyak yang berspekulasi agar umat mendukung Jokowi, atau malah mau menjadikan Indonesia ini negeri Islam, dan lain-lain.

Sebagaimana yang diketahui bahwa Jokowi penah menyampaikan bahwa jangan dicampur antara agama dan politik, begitu pula pandangan dari para pendukung-pendukungnya.

Maka, banyak yang heran dengan keputusan yang diambil oleh Jokowi dan Parpol pengusungnya. Bisa saja ini strategi yang ditetapkan oleh para ulama dan Prabowo untuk membuat Jokowi dan kawan-kawan menjilat ludah mereka sendiri.

Ketika mereka kompak mengatakan jangan membawa-bawa ulama ke politik dan jangan mencampur adukkan politik dan agama, eh malah Jokowi dan kawan-kawan menentukan KH Ma’aruf Amin sebagai Cawapresnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved